Arsip

Arsip untuk September, 2008

Sinetron Keluargaku Harapanku

Senin, 1 September 2008 Tinggalkan Komentar

http://wp.me/pevle-1b

Label Rating: Bimbingan Orang Tua (BO)

Sinetron Keluargaku Harapanku mengisahkan Saira, gadis berusia 13 tahun yang memiliki dunia yang sempurna. Gadis yang sangat beruntung. Saira meiliki orang tua yang sangat menyayangi dan memujanya. Saira memiliki adik perempuan, Tasya, yang tidak terlalu Saira sayangi. Saira pelajar yang baik dan menjadi murid kesayangan guru-gurunya. Bahkan Saira juga menjadi bintang ekskul di sekolahnya. Saira bersahabat dengan Tara dan Amanda . Dan Glen, kapten sepakbola sekolahnya mengajak Saira nge-date. Glen adalah kakak kelas Saira dan juga cowok ter-cute di sekolah. Banyak yang iri dengan kehidupan Saira.

Tapi perlahan dunia Saira menjadi tak sempurna lagi. Di hari ulang tahunnya Saira berdoa semoga Allah tetap menjaga dunianya yang sempurna dan selalu melindunginya. Dan di ulang tahunnya yang ke-13, Saira mengambil semua uangnya untuk memberi makan 13 anak yatim piatu. Hal itu membuatnya sangat bahagia dan Saira bersyukur pada Allah karena dia beruntung memiliki keluarga yang penuh cinta. Saira juga meminta agar Allah kehidupan yang lebih baik untuk anak-anak itu. Sore itu, orang tua Saira dan Tasya (adik Saira) mengalami kecelakaan di perjalanan pulang. Saira sangat sedih dan berdoa meminta kesembuhan untuk kedua orang tuanya. Dia meminta Allah untuk membiarkan orang tuanya tetap hidup. Allah mengabulkan doa Saira,tapi tidak semua doa Saira terkabul. Orang tua Saira bisa terselamatkan tapi dokter memiliki beberapa berita buruk. Tasya yang setelah kecelakaan terlihat stabil ternyata meninggal dunia setelah mengalami pendarahan di dalam tubuhnya. Saira shock. Orang tua Saira sangat sedih. Saira merasa sangat bersalah karena Saira yang tidak tahu kalau Tasya juga ada di dalam mobil itu, tidak berdoa untuknya dan Saira merasa Tasya mati karena Saira tidak berdoa untuknya. Saira menjalani hidup dengan rasa sesal yang tak berujung bahkan Saira mempertanyakan kepada Allah mengambil Tasya. Saira pun berdoa berharap Tasya akan aman dan bahagia bersama-Nya di surga. Tapi Saira tetap merasa bersalah karena dia tidak berdoa untuk adiknya.

Perlahan penyesalan Saira memuncak ketika pernikahan orang tuanya mulai hancur. Sejak kecelakaan itu, kedua orang tua Saira tidak bebicara satu sama lain. Bahkan mereka tidak saling memandang. Kenyataannya, Jihan (ibu Saira) menyalahkan suaminya, Irfan, atas kecelakaan itu. Tapi, Saira tidak memperhatikan semua itu. Saira terlalu sibuk menyalahkan dirinya sendiri karena mereka terburu-buru datang di pesta ulang tahunnya. Saira mulai menghindari teman-temannya, dan mulai menghabiskan waktu untuk belajar dan berada di rumah untuk membuat senang kedua orang tuanya. Saira semakin rajin berdoa sepenuh hati agar mereka kembali bahagia seperti dulu. Tapi apa yang Saira lakukan tidak menolong apa pun. Kadang Saira berkata pada Allah kalau orang tuanya sangat merindukan Tasya, dia terlalu muda dan masih belum sempat melihat dunia. Mungkin seharusnya aku ada di mobil itu menggantikan Tasya. Irfan mencoba membujuk Jihan agar mereka memiliki anak lagi, tapi Jihan marah dan berkata kalau tidak ada yang bisa mengembalikan Tasya, dan Tasya bukan mainan yang bisa tergantikan. Aku tidak akan pernah memiliki anak lagi!

Kemudian Saira mengetahui kalau orang tuanya bermasalah dalam pekerjaan mereka. Partner kerja ayahnya mengambil sejumlah uang dan menghilang. Irfan mulai sibuk dengan perusahaannya. Saira berdoa untuknya dan mencoba membantu Irfan dengan caranya sendiri. Meski teman Saira membantu dengan membuka sale di garasi. Hal itu tidak banyak membantu, tapi Saira bersedia melakukan apa pun untuk menjaga keutuhan keluarganya. Tapi ternyata pernikahan orang tuanya terancam bubar.

Setelah masalah keuangan mulai bisa teratasi, Saira berpikir kalau keadaan mulai membaik dan Saira berterima kasih pada Allah dan tetap meminta Allah menjaga keluarganya. Tapi takdir berkata lain. Pagi hari di hari ulang tahun pernikahan orang tuanya, yang tak lain adalah hari pertama puasa, Saira bangun pagi-pagi dan menyiapkan Sairapan untuk Jihan dan Irfan. Tapi bukannya mereka merayakan hari pernikahan, tapi mereka justru berencana untuk berceari. Bahkan mereka tidak ingat kalau hari itu adalah hari pernikahan mereka. Saira terguncang. Saira memohon agar mereka tidak berpisah. Saira berkata kalau dia akan melakukan apa pun agar mereka tetap besama. Perlahan mereka menjelaskan kalau mereka tidak mungkin lagi bisa hidup bersama. Saira semakin terguncang. Jihan bertanya, Saira mau tinggal bersama siapa? Saira berkata, keinginannya bukanlah suatu masalah. Irfan berkata kalau keinginan Saira adalah penting. Dengan cepat Saira berkata, aku ingin tinggal bersama kalian. Saira berdoa agar orang tuanya mengerti maksudnya dan mereka berubah pikiran. Mereka memikirkan hal itu dan menemukan solusi. Mereka berkata kalau Saira bisa tinggal bersama mereka secara bergantian setiap minggu. Saira tetap mencoba mengatakan kalau Saira ingin mereka bertiga kumpul bersama seperti dulu lagi. Dengan sedih Jihan berkata kalau itu tidak pernah akan terjadi, karena keluargamereka telah kehilangan satu orang.

Saira tahu kalau Allah menguji imannya untuk melihat seberapa kuat keyakinan mereka. Saira berkata kalau Allah hendak menguji imannya, dia harus siap menghadapi semua cobaan, meski pun harus berjalan diatas api, tapi tolong jangan biarkan orang tuanya melewati ujian ini sekarang. Aku akan menghadapi semua test untuk mereka. Saira merasa bersalah dan memohon pada Allah untuk tetap menyatukan orang tuanya. Dia berkata, Allah kalau Kau tetap menyatukan kedua orangtuaku, aku akan menjadi putri yang baik untuk mereka dan aku akan mematuhi mereka dan aku akan puasa selama 2 minggu setiap bulan. Tapi doanya tidak berhasil. Orangtuanya tetap memilih bercerai.

Saira tidak bahagia. Dia semakin tenggelam dalam kesedihannya. Bahkan teman baiknya menyadari hal itu. Teman-teman Saira memutuskan untuk berbicara pada orangtua Saira. Jihan berkata kalau mereka tidak akan mengerti, karena itu masalah orang dewasa. Tapi ketika mereka mengatakan pada Jihan kalau Saira berpikir semua itu adalah kesalahannya, Jihan merasa bersalah. Mereka juga mengatakan hal yang sama pada Irfan. Orangtua Saira memutuskan untuk bertemu Saira dan mengajaknya makan malam bersama. Saira merasa sangat bahagia dan berpikir kalau mereka akan kembali bersama. Akhirnya doanya mulai terjawab dan Saira mulai berterima kasih pada Allah. Tapi Jihan dan Irfan berkata kalau seharusnya Saira tidak perlu merasa bersalah atas perceraian mereka, karena itu bukan kesalahannya. Terkadang hal-hal buruk menimpa orang baik. Saira kembali merasa sedih. Saira kembali menenggelamkan dirinya pada pelajarannya dan memusatkan perhatian dan tenaganya pada pelajaran.

Di sekolah, teman-teman Saira sangat mendukung dan memperhatikannya. Saira mencoba mengusir mereka tapi mereka tidak membiarkan Saira menderita. Mereka mencoba membuatnya senang, mereka mengadakan pesta piyama dsb, tapi Saira tetap tenggelam memikirkan orangtuanya.

Saira mendapatkan nilai tertinggi di beberapa ujian mata pelajaran Internasional dan pulang ke rumah untuk memberitahukan ibunya, tapi ketika dia tiba di rumah, Jihan mengatakan kalau dia sudah menikah lagi dengan pria bernama David. Saira shock dan menolak berbicara dengan ibunya. Jihan mencoba mengatakan kalau itu akan menyenangkan buat Saira karenaDavid memiliki putri seusia Saira, jadi mereka bisa berteman dan bersaudara. Saira bertanya apakah dia menghukum Saira atas kematian Tasya? Jihan berkata kalau dia menikah karena David mencintainya dan dia merasa kesepian. Saira tidak mengerti bagaimana Jihan bisa merasa kesepian ketika dia memiliki Irfan dan Saira. Jihan memohon agar Saira bertemu Melinda, karena David sangat berarti untuknya. Ketika David dan Melinda datang, untuk pertama kalinya sejak kecelakaan itu, Saira melihat ibunya tertawa. Hal itu menyadarkan Saira betapa berartinya David untuk Jihan. Saira memutuskan untuk berpikir positif. Mungkin ini adalah cara Allah untuk membuat mereka semua bahagia? Saira memutuskan untuk berusaha semampunya agar senyuman itu tetap ada di wajah ibunya. Dia mencoba bersikap ramah pada Melinda, tapi Melinda sangat manja dan tidak menyenangkan. Melinda selalu berbohong dan membuat Saira bermasalah. Saira tidak peduli meski Jihan mempercayai semua kebohongan Melinda tentang dirinya, dan menggantikan posisinya. Ini sangat menyakitkan Saira yang berusaha tidak mempedulikan semua itu hanya untuk kebahagiaan ibunya. Saira memutuskan untuk bersabar dan menunggu datangnya sore saat Irfan datang menjemputnya dan membawanya ke rumah lamanya. Hanya itu yang tersisa dalam hidupnya.

Tapi lebih dari itu, kenyamanan terenggut darinya Irfan mengatakan kalau dia akan menjual rumah itu. Saira merasa hancur. Dia tidak mengerti kenapa semua ini menimpanya. Irfan menjelaskan kalau dia harus melanjutkan hidupnya dan rumah itu menyimpan banyak kenangan manis untuk mereka, dan dia harus meninggalkan semua kenangan yang sekarang hanya membuatnya sedih. Saira memohon agar Irfan memikirkan kembali keputusannya itu, tapi keputusan Irfan sudah bulat. Saira bingung dan terluka. Dia merasa kalau dirinya tak penting dalam kehidupan orangtuanya, sejak mereka hanya melakukan hal-hal yang membahagiakan diri mereka masing-masing dan tidak ada yang peduli akan perasaan Saira atau keinginannya. Saira mulai mengalami depresi yang serius. Minggu yang seharusnya dia merasa nyaman di rumahnya sendiri tapi Saira menghabiskan waktu untuk membereskan semua barang-barang kenangan. Melihat kotak-kotak yang penuh dengan barang-barangnya, Saira berpikir, ‘aku sama seperti barang yang tidak diinginkan yang hanya dilewati begitu saja oleh kedua orang tuaku. Hidupku seperti barang yang dibuang kesana sini.’

Ketika teman Saira tahu hal itu, mereka kembali membantunya mengepak dan mencoba menghibur Saira dengan membuat pesta kecil-kecilan. Beberapa saat Saira bisa melupakan semua masalahnya dan dia bisa tertawa setelah sekian lama, tapi tawa itu berubah menjadi tangis ketika Saira teringat kembali pada semua kenangan di rumah itu. Saira sangat berterima kasih pada teman-temannya.

Saira pergi ke mesjid dan berkata, ‘ya Allah, aku mau melakukan apa saja utnuk menyatukan kembali kedua orangtuaku. Tolong jangan menghukum aku seperti ini’. Tapi ketika dia meninggalkan mesjid dan melihat anak-anak yatim piatu, Saira menangis, berpikir, setidaknya masalahku lebih baik dibanding anak-anak itu. Saira kembali ke mesjid dan berkata, ‘Allah, maafkan kebodohanku karena aku tidak melihat sisi baik dari situasiku. Banyak anak yang tidak memiliki rumah atau keluarga, dan Kau memberi aku 2 rumah dan aku masih terus mengeluh. Ya Allah tolong maafkan aku…’

Tapi meski demikian, Saira kecil memiliki banyak kekhawatiran dan kebingungan dan dia selalu berdoa memohon untuk tetap yakin dan dikuatkan. Di rumah Jihan, Melinda membuat Saira semakin tertekan. Saira berusaha sekuat tenaga untuk bersahabat dengan Melinda, tapi secara jelas Melinda bilang kalau dia membenci Saira. Saira terkejut dengan ketidaksukaan Melinda padanya, tapi ketika Jihan bertanya ada masalah apa, Saira teringat pada anak yatim piatu dan tersenyum dan bilang kalau tidak ada masalah. Tapi sebenarnya banyak masalah. David juga tidak menyukai Saira yang menghabiskan banyak waktu bersama Jihan. Saira curiga pada David, tapi kekhawatiran Saira terbukti ketika dia mendengar David mengatakan pada Jihan kalau Jihan harus mulai lebih memperhatikan Melinda yang telah kehilangan ibunya diusia yang sangat muda dan membutuhkan sosok ibu dalam hidupnya.

Tak peduli apa yang dilakukan Saira, atau tak peduli seberapa sering Saira berdoa tetap tak ada perubahan. Setiap dan semua yang dimilikinya mulai terambil. Terpikir akan kekhawatirannya, Saira mencoba menjaga keyakinannya akan Allah. Saira tetap berpuasa dan berdoa seperti biasanya.

Satu-satunya tempat yang nyaman untuk Saira hanyalah sekolah, tempat dimana dia memiliki beberapa teman baik yang bisa mengerti perasaannya. Tapi meskipun demikian, dunia Saira tetap tidak tenang. Saira akhirnya tahu kalau Glen adalah pacar Melinda. Ketika Saira tahu hal itu, dia menemui Glen dan Glen berkata ‘Saira meninggalkan Glen begitu saja’. Glen berusaha berbicara dengan Saira selama 3 minggu, tapi Saira tenggelam dalam kesedihannya dan tidak terlalu memperhatikan Glen. Saira marah akan keegoisan Glen. Saira kembali mencoba mencari kenyaman ari sahabat-sahabatnya. Tapi kebanyakan dari mereka memiliki pacar. Hanya Raffi, teman bermain waktu kecil Saira yang mau memberikan bahu untuknya. Perlahan Saira mengatakan pada Raffi tentang semuanya. Bahkan hal-hal yang selama ini disembunyikan Saira dari teman-temannya. Sepertinya Raffi mengerti rasa sakit Saira, karena dia juga anak broken home. Saira terkejut dan berkata ‘aku tidak tahu hal itu’. Raffi tersenyum dan berkata itu terjadi ketika aku masih kecil, setidaknya kamu mengerti apa yang terjadi, aku bahkan tidak tahu apa yang akan terjadi, semua itu sangat membingungkan.’ Dalam hati Saira merasa sedih untuk Raffi dan berterimakasih ada Allah karena semua itu tidak terjadi di saat dia masih sangat kecil. Saira juga bersyukur karena Allah memperlihatkan Glen yang sebenarnya sebelum dia terlalu jauh mengenal Glen. Saira meminta Raffi untuk tidak menyerah. Kenyataannya, Raffi tidak mempercayai Allah dan Saira mulai berbicara tentang agama dan membangun kembali kepercayaannya akan Allah.

Saira masih saja harus menghadapi kemarahan dan siksaan dari Melinda tapi Melinda terus saja berpesta dan bertemu dengan cowok-cowok. Suatu hari Jihan mendatangi kamar putri-putrinya mendapati Melinda tidak ada di sana. Saira tahu kalau Melinda pergi ke pesta setelah mengenakan baju yang menurutnya kelewatan dan minta agar Melinda tidak pergi. Tapi ketika Jihan menanyakan dimana Melinda, Saira tidak ingin menyakiti ibunya dan bilang kalau Melinda pergi ke rumah temannya untuk mengerjakan tugas. Saira lupa memberitahu ibunya. Mendengar itu Jihan marah dan menghukum Saira karena tidak memberitahukan hal ini. Ketika Melinda pulang dan mengetahui hal itu ia memutuskan untuk mengambil keuntungan dari kebodohan Saira dan bertambah liar. Ia tahu Saira pasti akan membantu menutupinya. Akhirnya Saira bertanya mengapa Melinda terus saja melakukan hal itu karena Saira sudah mulai merasa lelah berbohong untuk Melinda. Tapi Melinda malah bertanya kenapa Saira berbohong. Saira adalah anak yang saleh dan tahu kalau berbohong adalah dosa. Saira berpikir sesaat kemudian mengatakan ia bersedia dihukum untuk kebohongannya asal ibunya tetap terlindung dari hal-hal yang Melinda lakukan. Melinda tertawa dan berkata kalau Saira harus tetap berbohong karena ia tidak akan berhenti melakukan hal yang disukainya. Saira sedih tapi suatu hari Melinda pulang dalam keadaan mabuk dan tertangkap basah. David marah pada Jihan karena tidak merawat Melinda dengan baik. Tapi Saira malah menutupi Melinda lagi. Saira pun dihukum lagi. Saira bertahan karena tidak ingin David menceraikan ibunya.

Ayahnya mengatakan kalau ia mempunyai kejutan untuk Saira dan Saira pikir ia akan tinggal bersama ayahnya. Tapi ini adalah kabar buruk yang lain. Irfan mengatakan bahwa ia akan menikah lagi dengan wanita yang sangat ingin berkenalan dengan Saira. Sheila adalah seorang wanita muda yang merasa tidak aman dan sangat posesif pada Irfan.

Perubahan ini terlalu besar buat orang dewasa apalagi buat Saira yang masih remaja. Hal itu mulai mempengaruhinya. Kesehatan Saira menurun, mulai tidak nafsu makan. Orangtua Saira pikir ini adalah cara Saira untuk melampiaskan rasa marahnya dan orangtua tirinya menyarankan agar tidak terlalu memperhatikan Saira. Tapi ini bukan hanya kemarahan seorang remaja. Saira mulai sakit dan tidak ada yang merawatnya bahkan orangtuanya pun tidak pernah menanyakan bagaimana keadaan Saira. Saira juga mulai mengalami mimpi buruk mengenai kecelakaan dan Tasya. Dan penyakitnya menjadi lebih parah karena kurang tidur. Saira pun berdoa pada Allah untuk tetap membuat keluarganya bahagia. Tapi ia berharap lebih dulu mati daripada Tasya saat ia mendengar ibunya minta ayahnya untuk menjemputnya karena Jihan ingin pergi dengan David dan Melinda untuk pertemuan keluarga David. Saira merasa tidak diinginkan dan menjadi beban keluarganya. Ia berdoa dengan khusuk agar semuanya baik-baik saja. Ia bilang pada Allah, ia tidak mau menjadi anak yang egois yang hanya menginginkan kebahagaiaan untuk dirinya sendiri. Ia minta agar orangtuanya tidak bertengkar karena dia. Ia hanya menjadi beban bagi orangtuanya dan tolong tunjukkan jalan bagaimana dapat lepas dari mereka.

Suatu hari Melinda minta tolong pada Saira. Mendengar itu Saira girang. Ia ingin membangun suatu ikatan dengan saudara tirinya. Melinda bilang kalau ia ingin membeli gaun dan minta Sairan Saira. Waktu di mall Melinda kedapatan mengutil dan Saira mengakui sebagai perbuatannya untuk menyelamatkan Melinda dari rasa malu. Di rumah Melinda menceritakan pada semua orang kalau Saira kedapatan mengutil dan Jihan malu akan perbuatan Saira. Saira bingung bagaimana caranya untuk membuat keluarga itu bisa mencintainya. Saira berdoa dan mengatakan pada Allah kalau ia tetap yakin padaNya karena ia tahu kalau Allah pasti akan memberi yang terbaik baginya tapi yang diinginkan hanyalah Allah dapat menunjukkan tanda-tanda bahwa semuanya akan menjadi lebih baik. Bukan karena ia tidak percaya padaNya tapi ia ingin tanda bahwa Allah memang mendengarkan doanya.

Tapi keadaan yang membuat Saira stress lebih dominan dan ini berpengaruh pada peringkat Saira di sekolah dikarenakan kesehatan Saira yang menurun. Di sekolah Saira mengetahui kalau banyak teman-temannya yang juga broken home dan ia mulai bergaul dengan mereka. Saira tercengang karena mereka memiliki banyak kesamaan. Mereka juga sangat marah karena diabaikan dalam pengambilan keputusan masalah keluarga. Tapi Raffi sangat khawatir karena anak-anak tersebut dapat memberi pengaruh yang buruk bagi Saira. Ia mencoba untuk menjelaskan hal ini pada Saira tapi Saira hanya bilang kalau ia mengerti apa yang mereka lalui. Suatu hari Saira dipanggil ke kantor Kepala Sekolah. Ia melihat orangtuanya disana, memandangnya dengan marah dan kelihatan sangat kecewa. Ibunya bertanya apa yang Saira lakukan pada dirinya. Selama ini ia selalu masuk ranking tapi kali ini ia hampir gagal dalam 3 mata pelajaran. Ia sudah cukup dewasa untuk melihat kalau semuanya tidak mudah untuk dilalui dalam beberapa bulan ini dan sekarang ia malah menambah masalah. Jihan dan Irfan sangat peduli pada Saira tapi Saira tidak melihat kepedulian mereka. Ia melihat kalau ini hanyalah ketidaksetujuan atas apa yang telah diperbuatnya. Saira tak tahan lagi dan meledak. Ia bilang kalau orangtuanya bertanggung jawab karena telah menghancurkan hidupnya. Ia telah menjadi anak yang baik, selalu dapat ranking di sekolah, mencintai orangtua dan adiknya, bertanggung jawab, tidak melakukan hal-hal yang buruk dan selalu mengerjakan PR. Ia selalu mencoba menjadi anak yang baik yang dapat dibanggakan orangtuanya.Tapi bukannya ia mendapatkan keluarga yang mencintainya tapi malah dioper kesana kesini. Ia berteriak dan mengatakan kalau ia bahkan tidak mempunyai lemari di rumahnya. Ia menyimpan bajunya di koper. Orangtua Saira mencoba untuk mengatakan padanya kalau kadang-kadang beberapa hal berubah tapi Saira yang sudah kesal mengatakan kalau memang semuanya berubah tapi kenapa ia yang harus menderita? Kenapa ia yang harus menanggung akibat kalau kenyataannya orangtua Saira tidak saling mencintai. Ia tidak minta untuk dilahirkan. Kalau mereka tidak bisa memberikan rumah yang nyaman bagi anak-anaknya lalu mengapa mereka melahirkan anaknya ke dunia? Tanpa sadar Saira mengatakan kalau untung saja Tasya sudah mati, paling tidak ia tidak usah mengalami hal ini. Dalam kemarahannya, ibu Saira menampar Saira dan Saira pun berlari keluar ruangan, keluar dari sekolah dan sampai di jalan raya dimana ia mendapat kecelakaan.

Ketika ia bangun, orangtuanya minta maaf dan menjelaskan alasan mereka bercerai. Mereka menyadari keadaan ini sangat sulit untuk Saira dan berjanji mulai sekarang semuanya akan berbeda, apa pun yang terjadi mereka akan tetap berada di sisinya. Saira gembira mendengar hal ini dan ia juga minta maaf karena telah meledakkan amarahnya. Orangtua Saira bilang kalau mereka mengerti akan hal itu. Saira pun bahagia.

Sepertinya keadaan akan membaik tapi takdir tidak begitu. Istri baru Irfan, Sheila, mengumumkan kalau ia hamil. Saira sangat gembira mengingat ia akan mempunyai adik perempuan atau laki-laki lagi tapi kegembiraannya tidak berlangsung lama. Sheila seorang ibu yang tidak merasa aman. Ia selalu saja mengkritik setiap perbuatan Saira. Saira memutuskan untuk tersenyum dan tidak peduli tapi Sheila malah menyinggung Saira kalau Saira egois dan jahat. Ia bahkan bilang kalau bayinya lahir nanti ia akan minta Irfan untuk tidak mempedulikan Saira lagi. Saira tidak mengerti orang dewasa tapi ia belajar kalau sikap Sheila seperti itu karena ayahnya meninggalkan ibunya demi wanita lain saat Sheila masih kecil. Hal ini sedikit membantu Saira untuk mengerti tentang Sheila dan ia berterima kasih pada Allah karena paling tidak orangtuanya tidak menelantarkan dirinya. Kehamilan Sheila pada bulan-bulan pertama sangat melelahkan. Ia mual-mual. Irfan menghabiskan waktunya dengan Sheila selama fase ini. Saira mencoba bekerjasama tapi Sheila cemburu setiap kali Irfan menghabiskan waktunya bersama Saira. Sheila menyinggung Irfan kalau suaminya akhir-akhir ini banyak menghabiskan waktunya bersama mantan istrinya, Jihan dan Saira. Saira mendengar mereka bertengkar. Irfan coba menjelaskan pada Sheila kalau Saira adalh putrinya tapi Sheila malah bilang kalau mereka semua adalah bagian dari masa lalu Irfan dan bagaimana dengan bayi yang dikandungnya? Apakah ia tidak peduli? Sheila dan bayinya adalah saat ini. Mendengar itu Irfan merasa sedih.

Di rumah Jihan pun kejadian yang sama sedang berlangsung. David bilang pada Jihan kalau Melinda tumbuh tanpa seorang ibu dan Jihan tidak memperhatikan atau pun meluangkan waktunya bagi Melinda. Melinda merasa ditinggalkan. David bilang seharusnya Jihan berhenti memperhatikan Saira. Jihan pun merasa terbelah di antara dua putrinya.

Tapi tak seorang pun yang dapat membayangkan apa yang dialami Saira. Ia merasa tersesat dan kesepian. Ia tidak mempunyai orangtua yang dapat memberikan Sairan. Orangtuanya telah mengingkari janji yang mereka buat dan sekali lagi mereka tenggelam dalam kehidupan mereka masing-masing tanpa mempedulikan Saira. Sekali lagi kesehatan Saira menurun. Teman-temannya menjauhinya. Anak-anak mulai mengejek-ejek Saira. Saira pun kehilangan konsentrasi belajar. Raffi coba untuk mengingatkannya tapi Saira tak peduli karena jiwanya hancur. Raffi ingin mengatakan kalau Saira tidak sendiri tapi tak bisa. Bertahun-tahun Raffi mencintai Saira Raffi tapi ia tidak dapat mengungkapkannya. Saira memutuskan untuk berhenti sekolah sementara tapi ia tidak mengatakan hal ini pada orangtuanya. Ia mulai bergaul dengan orang-orang yang salah. Walaupun ia tidak cocok berada di antara mereka tapi ia tidak punya tempat lagi. Kalau tidak sedang bersama mereka, Saira pergi ke mesjid. Ia mempertanyakan Allah mengapa Ia melakukan semua ini padanya padahal Saira sangat taat berdoa. Ia frustasi karena tidak mendapat jawaban dari Allah. Dan kemudian Saira mulai meragukan keberadaanNya. Beberapa kali ia disuruh melenceng dari jalan yang benar dan menjadi anak liar seperti teman-temannya. Walaupun ia bergaul dengan mereka tapi ia tidak melakukan semua yang dilakukan teman-temannya seperti merokok dan mabuk. Ia berusaha agar tetap kuat.

Orangtuanya mengetahui kalau Saira tidak sekolah dan menghukumnya. Suatu hari Melinda pergi ke pesta yang diadakan senior kampusnya tanpa seijin orangtua. Saira mencoba untuk mencegah tapi Melinda tak mau mendengar. Saira kemudian memutuskan untuk pergi juga untuk mengawasi Melinda. Raffi melihat Saira mengendap-endap dan mengingatkan agar tidak pergi. Mereka pun bertengkar dan Saira mengatakan kalau Melinda adalah kakaknya dan ia harus mengawasi Melinda. Raffi mengalah tapi ia memutuskan untuk mengikuti Saira.

Di pesta, beberapa senior Melinda mencampur minuman Melinda dengan alkohol dan Melinda minum tanpa menyadarinya. Mereka menyuruh Melinda minum terus sampai mabuk. Mereka kemudian mencoba memanfaatkan keadaan itu dan waktu Saira berusaha untuk menyelamatkan Melinda, mereka berkelahi dengan Saira. Tapi Saira diselamatkan oleh Raffi.

Saira sangat berterima kasih pada Raffi yang telah menyelamatkannya. Raffi memutuskan untuk mengutarakan perasaannya tapi malah kaget dengan reaksi Saira. Ia menghardik Raffi. Saira bilang kalau tidak ada yang namanya cinta. Cinta tidak bertahan selamanya. Suatu hari Raffi akan bosan dan menyingkirkan Saira dan hal itu akan membuat hidup Saira berantakan lagi. Raffi mencoba meyakinkan Saira kalau hal itu tidak akan terjadi tapi Saira sudah capek dengan hal ini. Ia merasa adalah kesalahannya kalau cowok-cowok mencoba untuk mengambil keuntungan darinya. Saira berdoa pada Allah mohon pengampunan dan mulai menghindari semua cowok kecuali ayahnya. Ia menjadi seorang yang sangat konservatif dalam berpakaian dan mulai menghindari Raffi. Hal ini membuat Raffi depresi dan mencoba mengatakan kalau ia tidak akan pernah bahkan dalam mimpi pun tidak akan menyakiti atau pun mengkhianati Saira. Tapi Saira tidak mau ketemu Raffi. Melinda menemukan beberapa foto dari pesta kemarin dimana pose Saira terlihat jelek dan tidak kooperatif. Melinda memperlihatkan foto-foto ini pada Jihan dan merasa kecewa pada Saira. Ia kemudian menghukum Saira. Melinda senang sekali melihat Saira dihukum.

Mendengar itu Raffi merasa sangat marah dan ingin memberitahukan Jihan hal yang sebenarnya tapi Saira mencegah Raffi dan membuatnya berjanji untuk tidak menceritakan hal itu. Saira bilang mungkin saja ia tidak ditakdirkan untuk hidup bersama dengan orangtuanya. Saira tidak tahu lagi apa yang harus dilakukannya karena ia merasa malu telah membuat orangtuanya kecewa. Jadi Saira memutuskan untuk kabur dari rumah. Ia tinggal di jalanan untuk beberapa hari dan melihat bagaimana orang miskin melewati hal-hal yang sulit seperti kelaparan, kemiskinan, buta huruf dan lainnya tapi mereka tetap bisa menemukan jalan untuk merasa bahagia. Saira bahkan menjadi buruh kasar. Di saat hujan ia menjadi ojek payung, membantu membawakan belanjaan. Akhirnya Raffi menemukan Saira dan meyakinkannya untuk kembali ke rumah. Setelah merasa bimbang beberapa saat Saira pun setuju. Ketika sampai di rumah, Saira menyadari kalau orangtuanya bahkan tidak tahu kalau ia kabur selama 6 hari. Irfan mengira Saira bersama Jihan demikian pula sebaliknya. Dengan bantuan Raffi Saira berusaha tetap berpikir positif.

Sementara itu Raffi tetap berusaha untuk memenangkan hati Saira. Saira kemudian menceritakan apa yang terjadi saat ia membuntuti Melinda ke pesta. Ia merasa kotor dan tidak nyaman bila berada di dekat cowok.

Ketika Saira kembali ke rumah, perlakuan Melinda kepadanya bertambah kasar. Ini disebabkan karena Melinda putus dengan Glen dan ia ingin kembali pada Saira. Melinda mengingatkan Glen kalau mereka dulu tidak putus secara baik-baik. Glen bilang kalau dulu ia tidak menyadari bahwa tidak ada orang yang sepenyayang Saira. Ia bertemu dengan Melinda yang egois dan palsu. Saira telah mengecewakannya tapi itu tidak penting bagi Glen. Melinda dan Raffi sama-sama merasa cemburu tapi Raffi lebih merasa tidak aman daripada cemburu.

Suatu hari Saira mengetahui kalau sang ibu jatuh dari tangga. Ia langsung ke rumah sakit dan melihat sekujur tubuh ibunya memar. Saira menanyakan apa yang terjadi tapi Jihan malah menangis. Saira mengamati kalau Jihan takut melihat David sedangkan Melinda tersenyum. Melihat ini Saira marah. Ia bertanya pada David mengapa mendorong Jihan dari tangga tapi David tidak mengakui. Saira bilang pada David kalau ia sudah berani menyakiti ibunya dan akan mendapatkan balasannya. Saat ia pergi, Melinda mendekatinya dan bilang kalau Saira bodoh. Tidak bisakah ia melihat kalau David tidak mungkin melukai Jihan? Melinda lah yang melakukannya. Saira kaget mendengarnya. Melinda bilang kalau Jihan selalu menceramahinya dan mendiktenya. Melinda capek dan minta Jihan diam kemudian ia pun mendorong Jihan dari atas tangga. Saira marah sekali. Berani sekali Melinda melakukan hal itu sedangkan Saira berusaha mati-matian agar Jihan mencintainya. Padahal ia memperlakukan Melinda seperti anaknya sendiri. Melinda pun berteriak kalau Jihan bukan ibunya dan tidak akan pernah menjadi ibunya. Jihan boleh saja mati dan Melinda tidak peduli. Saira hampir saja menamparnya tapi Melinda malah menantangnya dan berkata tidak sabar menunggu bagaimana reaksi David jika tahu Saira menamparnya. Saira mengancam akan menceritakan David yang sebenarnya. Melinda hanya tertawa dan berkata kalau David tidak pernah akan mempercayainya. Saira pun bingung harus berbuat apa. Akhirnya Saira bicara pada ibunya. Kali ini ikatan ibu dan anak menjadi kuat. Saira bilang kalau Jihan harus melawan Melinda dan jika David tidak bisa melihat kesalahan putrinya dan menyebabkan Jihan menderita mungkin saja David bukan pria yang tepat untuk Jihan. Jihan bimbang tapi akhirnya ia pun menceritakan hal yang sebenarnya pada David. Pengakuan Jihan menyebabkan kemarahan, kepahitan dan kebencian di dalam rumah itu. Melinda menyalahkan Saira karena hal ini dan bersumpah akan menghancurkan hidupnya. Melinda terus menyabotase Saira dari berbohong tentang Saira, mencoba mengambil Raffi. Melinda mau melakukan apa saja agar dendamnya terpenuhi sampai suatu saat Melinda berada dalam kesulitan dan ditolong oleh Saira. Kebahagiaan keluarga kemudian menjadi tujuan utamanya.

Raffi memutuskan untuk meyakinkan Saira akan cintanya tak peduli yang akan terjadi. Apakah Saira akan yakin? Apakah Saira akan mencintai Raffi juga? Apakah ia akan mempercayai orang lain lagi? Ataukah Raffi akan menemukan cinta sejatinya?

Saksikan Sinetron Keluargaku Harapanku yang dibintangi oleh:

  • Teddy Syach sebagai Irfan
  • Dessy Ratnasari sebagai Jihan
  • Risty Tagor sebagai Saira
  • Faris sebagai Raffi
  • Natasha Dewanti sebagai Sheila
  • Cristine Jogya sebagai Bu Nani
  • Salshabilla Andriani sebagai Tasha
  • Angelica sebagai Nava
  • Bagus sebagai Zacky
  • Deo sebagai pembantu Irfan
  • Tata Olivia G. sebagai Sekretaris
  • Yolanda M. sebagai Salma
  • Didi Junaedi sebagai Malik
  • Aswin Benyo sebagai Joko
  • Ampra sebagai Eddy (Supir Irfan)
  • Nurul Bento sebagai Eddy (Tk. Kebun)
  • Anbo Onthoceno sebagai Figo
  • Kevin Gutomo Putra sebagai Alvin
  • Daffa Ananda sebagai Ical
  • Dimas Beck sebagai Glenn
  • Insani sebagai Tara
  • Inas Tasya sebagai Amanda
  • Wega sebagai Angel
  • Dino Ramli sebagai Arif
  • Lucky Hakim sebagai David
  • Melly sebagai Pembantu Jihan
  • Watik sebagai Pembantu Irfan
  • Nanda Putra sebagai Coky
  • Teddy (Ical) sebagai Ega
  • Hestu sebagai Dodi

Kredit Title dan Ucapan Terimakasih kepada:

  • Puji syukur terhadap Tuhan Yang Mahakuasa.
  • BLOGVOTERS™ yg setia membuka laman ini & ngevote 5 bintang untuk artikel ini.
  • BLOG-COMENTZ™, penggemar sinetron yg telah meramaikan thread ini dengan memberikan komentar, kritik dan saran.
  • http://www.indosiar.com/ dan semua pihak atas sumber tulisan dan gambar.
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 38.484 pengikut lainnya.