Mutiara Di Balik Cadar

2008 Oktober 5
by PANGERAN 229™

“Namaku Farel. Aku mahasiswa di Universitas Islam Jakarta” Betapa ia seorang muslim yang hangat, digemari banyak wanita berjilbab di kampusnya. Juga Nampak suasana pengajian, ustad memberi materi tentang pernikahan. Semua mendengarkan dengan serius. Tiba-tiba ustad menyentil, kapan Farel akan menikah? Bukankah Farel sudah semester 5, sudah cukup umur untuk memasuki jenjang pernikahan?

Farel masuk ke dalam rumah setelah pulang dari kampus. Di dalam rumah, mama Farel udah menunggu dengan seorang cewek bergaya modern dan sexi. Farel menjaga pandangannya, tidak mau menatap cowok itu lama-lama. Bersalaman dengan bersentuhanpun farel enggan. Ia yakin, mamanya pasti akan menjodohkan Farel dengan cewek itu. Farel bingung dengan sikap mamanya dan masuk ke dalam kamar.

Mama mengikuti Farel masuk ke kamar dan marah. Kenapa Dewi dicuekin??? Padahal Dewi menunggu Farel dari siang. Farel dengan dengan lembut menjawab, sampai kapan sih mamanya akan menjodohkannya dengan wanita yang bukan pilihannya??? Mamanya bilang, usia Farel udah 21 tahun. Jawab Mama, udah saatnya Farel memikirkan pernikahan karena mamanya ingin farel nikah muda, hingga anaknya kelak sudah besar dan Farel masih segar. Mamanya juga kesepian hanya tinggal berdua dengan Farel. Ia ingin punya menantu yang menemaninya kemana-mana. Farel menjelaskan pada mamanya, ia mau sekali segera menikah, asal dengan wanita muslimah dan tidak ada kata pacaran! Kata Farel, kenapa kesepian? Kan sudah ada Adinda? Adik angkat Farel yang diambilnya dari panti asuhan. Farel nampak bercanda dengan penuh kasih. Ya, ia adalah pecinta anak yatim dan jadi salah satu guru di tempat anak yatim itu.

Di kampus, esoknya Farel bertemu dengan Malika, teman sekampusnya yang selama ini jatuh cinta dengannya. Cantik, berjilbab, cerdas. Tapi Farel menganggap Malika hanya teman biasa. Jelas saja ini membuat Ali, sahabat Farel heran. Malika kaya sekali, solehah, baik, cantik, mapan, pintar. Hampir semua cowok di kampus tergila-gila dengan Malika. Kenapa Farel cuek? Kata Farel, Malika memang baik. Tapi terlalu hebat untuknya. Farel hanya anak seorang janda sederhana.

Malika ternyata sudah mendapat deadline dari mama papanya untuk segera menikah sebenarnya sudah berusaha mencarikan suami untuk Malika. Tapi nggak ada satupun yang klop. Termasuk saat mama Malika menjodohkan Malika dengan Danis. Malika sempat jalan dengan Danis, hingga tahu Danis bukan pria baik-baik. Matre dan hanya butuh harta papa Malika! Malika bingung dan menceritakan kemelutnya pada Farel. Farel terus mendorong Malika menemukan soulmatenya tanpa Farel sadari akan rasa cinta Malika pada Farel yang kian tumbuh subur dan sebenarnya Malika sangat berharap Farel mau menikahinya.

Hingga suatu ketika, saat membeli kado ulang tahun di sebuah toko busana muslim untuk mamanya, Farel tak sengaja bertatapan dengan seorang cewek cantik berjilbab dan mengenakan cadar. Farel terpana beberapa saat, tapi langsung istigfar. Cewek itu lembut, keren, mature, memiliki mata yang indah di balik cadar yang dikenakannya. Sangat sempurna dimatanya. Walau pertemuan itu hanya sesaat, Farel benar-benar jatuh cinta dan tidak bisa melupakan sosok cewek bermata indah dan mengenakan cadar itu. Malamnya, ia munajat pada Allah mohon maaf karena tadi siang sempat menatap lama seorang wanita yang bukan muhrimnya. Ya, selama ini Farel memang sangat alim sekali.

Di lain pihak, Adinda bercerita ia punya sahabat baru, guru ngaji di musholla yang baik banget, memakai cadar dan kini tinggal bersama Tante Aisyah di dekat rumah Farel. Kata Adinda, tante itu pindahan dari sebuah pondok pesantren di Mesir, anak tante Aisyah. Tante Aisyah adalah pemilik toko jilbab. Kata Adinda, tante cantik itu itu sering ngasih coklat kalau Adinda hapal dengan cepat surah demi surah yang dia ajarkan.

Hingga suatu ketika Farel tahu bahwa sahabat Adinda, itu bernama Rabiah, yang ia temui beberapa waktu lalu toko busana muslim. Farel bahagia luar biasa. Wanita yang ia impikan selama ini, siang dan malam, ternyata sahabat Adinda. Farel jadi makin rajin mengantar jemput Adinda mengaji. Farelpun akhirnya menjalin persahabatan dengan Rabiah. Satu hal yang membuat Farel kaget, betapa sempitnya dunia, Rabiah tak lain juga sepupu Malika!!!

Farel, Rabiah dan Malika sering jalan bertiga. Ke toko buku, mengadakan santunan anak yatim. Dalam setiap pertemuan, dari tatapan mata Farel, nampak sekali terlihat bahwa Farel sangat mencintai Rabiah. Malika menangkap gelagat itu. Sebenarnya Rabiah juga sudah jatuh cinta pada Farel, namun ia tidak menampakkan dengan terang-terangan karena ia tahu, Malika sudah lama jatuh cinta pada Farel. Dan bagi Rabiah, jodoh adalah kehendak Allah mutlak. Ia pasti akan datang dengan sendirinya tanpa menyakiti orang lain.

Tante Aisyah, mama Rabiah yang tahu bahwa Rabiah sedang jatuh hati pada seorang pria, mendorong Rabiah untuk minta menikahinya daripada zina hati, zina perasaan. Tapi Rabiah menolak dengan halus. Ia mengatakan nggak mungkin dirinya jatuh cinta maupun mencintai seorang laki-laki yang sedang dicintai wanita lain. Rabiah mengaku ia sudah punya kekasih saat ia sekolah di Mesir dulu. Pasha. Tapi Tante Aisyah tidak percaya akan kata-kata Rabiah.

Malika dengan sedih curhat pada Rabiah bahwa sudah lama ia mencintai Farel, tapi Farel tidak pernah mencintainya. Rabiah menasehati sepupunya agar menyatakan isi hatinya pada Farel. Farel memang laki-laki yang luar biasa. Itu kata Rabiah. Sangat tampan, alim, hatinya lembut. Tapi Malika tidak ada keberanian karena takut ditolak. Rabiah dengan sungguh-sungguh berjanji akan membantu Malika mendapatkan Farel. Sekali lagi, karena Farel laki-laki yang luar biasa dan sangat matching dengan Malika! Malika sangat senang, tanpa menyadari bahwa hati Rabiah terasa pedih….Rabiah mencurahkan semua perasaannya lewat doa dan shalawat setiap malam saat tahajud…

Sementara itu Farel curhat dengan ustad, dan ustad mengatakan, tunggu apa lagi? Cinta nggak bisa menunggu. Farel harus segera menyatakan perasaannya pada Rabiah, menikahinya sebelum zina hati. Farel dengan berbunga-bunga menelpon Malika, minta support bahwa ia akan menyatakan cintanya pada Rabiah dan ingin menyatakan perasaannya bahwa ingin menikahi wanita bercadar itu. Malika kaget, shock. Disaat ia akan mengatakan isi hatinya pada Farel, minta agar Farel menikahinya, Farel justru akan menyatakan perasaannya pada Rabiah.

Malika menelpon Rabiah dengan hati patah. Mengucapkan selamat pada Rabiah. Ia minta Rabiah menerima lamaran Farel. Rabiah benar-benar tidak tega melihat keadaan Malika yang nampak sangat kelabu. Wajah Malika kelihatan sedih. Mama papa Malika bingung. Malika anak mereka satu-satunya! Diam-diam Rabiah merasa bersalah. Ia berjanji akan membantu Malika untuk mendapatkan Farel …. Ya, Rabiah yakin, Malika pasti akan mendapatkan Farel.

Akhirnya Farel mengajak Rabiah bertemu untuk bicara empat mata. Sebelum Farel mengungkapkan perasaannya ingin melamar Rabiah, Rabiah dengan lembut mengatakan terlebih dahulu, ingin memberitahu Farel bahwa dalam waktu dekat ini ia akan menikah dengan Pasha, sahabat Rabiah yang sekarang sedang sekolah di Mesir, yang sebentar lagi akan datang ke Indonesia. Rabiah menunjukkan fotonya bersama Ihsan. Hati Farel hancur lebur…. Ia kecewa begitu tahu Rabiah sebentar lagi akan menikah dengan laki-laki lain. Diam-diam Rabiah juga menangis setelah kepergian Farel. Dalam sholat ia mohon pada Allah untuk mengampuninya, yang sudah berbohong….

Farel sedih dan tiba-tiba jatuh sakit. Mama Farel ikut bingung dengan keadaan Farel. Mamanya tahu, Farel mencintai Rabiah. Mamanya menasehati, “jodoh itu mutlak rahasia Allah. Ketentuan Allah. Farel harus tawakal dengan apapun kehendak Allah… Allah pasti memberikan jodoh terbaik bagi Farel…”

Rabiah menemui Malika dan minta pada Malika untuk menunjukkan cintanya pada Farel saat Farel sedang sakit. Ini kesempatan bagi Malika untuk merawat Farel dan membuktikan cintanya pada Farel karena Rabiah akan menikah dengan laki-laki lain. Malika mulai kembali bersemangat. Ia mulai membenahi semangatnya dan minta pada mama papanya untuk menyampaikan keinginannya untuk menikah dengan Farel. Ia tidak malu melamar Farel duluan. Toh Siti Khadijah, istri Rasulullah juga melakukan hal itu. Hingga akhirnya hati Farel luluh melihat kesungguhan Malika yang tepat waktu mengisi kekosongan hidupnya. Ia mulai menyadari kesungguhan hati Malika.

Farel menerima cinta Malika dan menerima lamaran cinta Malika setelah berkonsultasi dengan ustad dan keluarganya. Rabiah berkata, betapa beruntungnya Malika jika ia bisa menikah dengan Farel. Ia berjanji akan menjadi istri yang terbaik untuk Farel.

Saat pesta walimahan antara Malika dan Farel digelar, hati Rabiah benar-benar perih. Tapi ia mencoba tegar. Ia mengucapkan selamat pada Farel dan memeluk Malika sangat lama. Hati Farel sebenarnya masih terpaut dengan Rabiah. Ya, keduanya sebenarnya masih kuat memendam rasa cinta. Ketika Farel bertanya kapan Pasha kembali ke Indonesia karena ia ingin berkenalan dengan laki-laki yang sudah beruntung merebut hati Rabiah, Rabiah hanya berkata, dalam waktu dekat ini.

Setelah menikah, Farel mencoba melupakan Rabiah, walau itu sangat sulit dilakukan. Malika berusaha keras membuat Farel bahagia. Farel kini mencoba belajar menikmati hari-hari yang indah bersama Malika. Malika tahu, Farel belum sepenuhnya mencintainya. Cinta Farel masih utuh untuk Rabiah. Sementara itu di lain tempat Rabiah juga berjuang keras memendam rasa rindunya pada Farel dengan berbagai macam cara.

Saat Farel dan Malika berbelanja di sebuah supermarket, Farel tiba-tiba bertemu dengan seorang laki-laki yang sedang berpelukan mesra bersama seorang wanita berjilbab. Farel ingat wajah laki-laki itu, sangat mirip dengan Pasha. Farel menyapa. Ternyata benar. Laki-laki itu memang Pasha. Farel bertanya apa Pasha tidak jadi menikah dengan Rabiah? Farel nyaris emosi dan tidak bisa mengendalikan dirinya bila Pasha memang mengkhianati cinta Rabiah yang tulus padanya. Pasha tertawa. Rabiah memang aneh. Rabiah itu sahabatnya saat kuliah di Mesir, bahkan ia bersahabat dengan istri Pasha. Bahkan Rabiahlah yang menjodohkan istrinya dengan Pasha. Farel shock. Berarti selama ini Rabiah membohonginya! Farel dengan marah mencari Rabiah dan bertanya kenapa Rabiah berbohong dengannya? Bukankah Rabiah mencintainya? Rabiah hanya mampu diam, tidak mampu menjelaskan apa yang sesungguhnya terjadi. Ia hanya berkata, Suatu saat Farel akan tahu apa yang sebenarnya terjadi.

Saat Farel pergi meninggalkan Malika dan bertemu dengan Rabiah, mata Malika terasa berkunang-kunang. Malika terjatuh tak sadarkan diri. Farel mendapat telpon dari mama Malika agar Farel segera ke rumah sakit. Bersama Rabiah, Farel langsung ke rumah sakit. Sampai disana, keadaan Malika sudah sangat parah di ruang ICU. Farel mendekati Malika. Malika dengan susah payah mengucapkan terimakasih pada Rabiah yang sudah berkorban banyak untuk dirinya, sehingga sisa usia Malika bisa ia habiskan bersama Farel, laki-laki yang dicintainya. Ia merasa hidupnya tidak sia-sia dan sangat berarti. Semua itu karena pengorbanan Rabiah, sang mutiara di balik cadar. Padahal jelas sekali Rabiah sangat mencintai Farel . Malika memeluk Rabiah yang pernah penolongnya sambil menangis. Mungkin jika tidak bersama-sama Farel, Malika sudah meninggal jauh hari karena kanker otaknya sudah berada di stadium 4. Dan rasa bahagianya bersama Farel telah menambah semangatnya untuk bertahan hidup. Walau Rabiah harus berkorban agar Malika mendapatkan semua itu.
Malika menyatukan tangan Rabiah dan Farel di atas dadanya, agar keduanya bersumpah mau bersatu dan menikah setelah kepergiannya. Rabiah dan Farel menangis sedih melepas kepergian Malika yang telah menghadap Ilahi….

No comments yet

Leave a Reply

Note: You can use basic XHTML in your comments. Your email address will never be published.

Berlangganan umpan komentar ini melalui RSS