Arsip

Archive for Juli, 2011

The Great Queen Seon Deok : Sinopsis Episode 31 32 33 34 35 36 37 38 39


Label Rating : Remaja (R), Bimbingan Orang Tua (BO)

Sinopsis The Great Queen Seon Deok Episode 31

Tayang Rabu, 23 Desember 2009 pukul 17:00 WIB di Indosiar

Dikutip dari http://www.indosiar.com/sinopsis/83558/the-great-queen-seon-deok-episode-31 [Edisi online: Rabu, 23 Desember 2009] — Dari kejauhan, Sohwa menatap trenyuh Putri Deokman yang tengah seperti orang linglung, dan langsung memanggil namanya.

Mata Putri Deokman (Lee Yo-won) membelalak begitu melihat sosok yang sudah begitu dikenalnya, ia langsung berlari mendekati Sohwa (Seo Young-hee) kemudian memeluknya sambil menangis seperti anak kecil.

Lee Yo Won Pemeran Ratu Seon Deok

Setelah saling bercerita tentang pengalaman masing-masing setelah kejadian di padang pasir, Putri Deokman dan Sohwa melepas kerinduan. Namun sayang, kali ini mereka tidak bisa seperti ibu dan anak karena status Deokman sebagai putri raja.

Di kediamannya, Mishil sangat kaget saat tahu Sohwa akhirnya berhasil bertemu dengan Putri Deokman. Pukulan semakin dalam saat ia diberitahu Chilseok (Ahn Kil-kang) kalau orang yang telah membantu Sohwa meloloskan diri adalah Munno (Jung Ho-bin). Oleh Seolwon (Jun Noh-min), diusulkan supaya Chilseok menjadi ketua hwarang alias wonsanghwa yang baru. Tujuannya cuma satu : menggalang kekuatan kubu Mishil.

Sementara itu, orang yang bakal ditawari tengah termenung dikamar membayangkan ekspresi Sohwa yang begitu ketakutan saat melihat dirinya. Saat ditawari Mishil, Chilseok menyebut perlu waktu untuk berpikir. Pertemuan dengan Sohwa membuat Chilseok yakin tidak ada tempat bagi dirinya di sisi wanita itu, ia memutuskan untuk menyetujui permintaan Mishil.

Hati Chilseok teriris saat menyadari kalau di sisi Mishil adalah satu-satunya tempat dimana dirinya harus berada. Ketika berjalan keluar, pria itu terkejut oleh kehadiran Sohwa yang tiba-tiba memanggilnya. Di pinggir kolam, keduanya sadar bahwa setelah hari itu, posisi keduanya ada di kubu yang berseberangan.

Ketika persiapan acara pelantikan ketua hwarang alias pungwolju tengah dilangsungkan, terjadi keributan di pintu masuk ketika seorang pria setengah baya berusaha memaksa masuk. Saat berusaha mencegah, keributan malah terjadi setelah Jukbang (Lee Moon-shik) dan Godo (Ryu Dam) terpental.

Di dalam balai pertemuan pertempuran tidak bisa dihindari, tanpa kesulitan pria tersebut mampu menaklukkan para hwarang termasuk para pentolannya. Bahkan, para petarung seperti Alcheon (Lee Seung-hyo) dan Seokpum (Hong Kyung-in) bukan tandingan. Begitu masuk ke lokasi, rombongan Putri Deokman terkejut melihat para hwarang andalan istana terkapar sementara seorang pria berdiri dengan gagahnya.

Begitu melihat, Deokman sadar kalau pria itu adalah guru Bidam. Yang wajahnya pucat adalah Mishil, sementara para hwarang langsung terkejut saat mengetahui pria yang baru saja menaklukkan mereka adalah Munno. Sambil menunjuk kursinya yang kosong, Munno menyebut kalau kehadirannya adalah untuk menghadiri pelantikan wonsanghwa.

Namun, Mishil sadar kalau kehadiran Munno tidak semata-mata demi acara rutin para hwarang. Saat bicara empat mata di kediamannya, Mishil mengingatkan kalau berkat dirinyalah Munno, yang merupakan anak putri bangsa Gaya, bisa masuk ke jajaran bangsawan Shilla.

Dengan wajah tenang, Munno kembali membeberkan sejumlah kejadian yang membuatnya memutuskan kembali ke istana. Ucapan Munno, yang mengaku bakal mengawasi turnamen hwarang, membuat Mishil bagai tersambar petir. Sementara itu di tempat lain, Putri Deokman terkejut saat mendapat kabar Munno tengah berdiskusi dengan Mishil.

Ingatan Sohwa kembali ke 20 tahun sebelumnya, ia ingat betul kalau Munno pernah berniat menjodohkan Deokman yang masih bayi dengan Bidam muridnya. Dari situ terungkap, Bidam ternyata adalah anak Mishil dari Raja Jinji. Dengan hati-hati, Sohwa berusaha mencari tahu tentang karakter Bidam dari Putri Deokman.

Berkat saran Seolwon, Mishil akhirnya setuju kalau kompetisi untuk menentukan siapa pungwolju alias kepala para hwarang diawasi oleh Munno. Apalagi, Seolwon menyebut yakin bahwa putranya Bojong (Baek Do-bin) tidak akan menemui kesulitan untuk merebut posisi itu.

Di pertemuan pertamanya dengan Munno, Putri Deokman sudah dikejutkan oleh ketidaksetujuan sang penasehat (gukseon) akan niatnya untuk menggantikan sang ayah. Selain menyebut Putri Deokman tidak akan bisa meraih semuanya sendirian, Munno juga memintanya untuk membuktikan diri kalau sang putri lebih baik dari Mishil.

Dari kediaman Putri Deokman, Munno secara tidak sengaja bertemu dengan Sohwa. Keduanya terlibat pembicaraan serius, Sohwa menyebut tidak setuju dengan rencana Munno untuk menjodohkan Putri Deokman dengan Bidam. Obrolan tersebut terdengar oleh Bidam, yang langsung teringat dengan kejadian di masa silam saat dirinya yang masih kecil membantai sekelompok orang dan langsung membuat sang guru berubah sikap.

Di hari kompetisi penentuan pungwolju, masing-masing pimpinan klan hwarang menghadiri rapat yang dihadiri oleh Putri Deokman, Mishil, Munno, dan Chilseok. Berbeda dengan biasa, kali ini pertarungan untuk menentukan siapa yang terbaik menjadi bagian terakhir dari kompetisi.

Pada ronde pertama, Munno ternyata mengetes kejelian para pimpinan klan hwarang. Saat ditanya, tidak ada satupun yang menjawab kecuali Bojong, yang dengan rinci mampu menjelaskan sejumlah atribut yang tidak biasa dikenakan hwarang yang menjaga di pintu masuk. Wajah Putri Deokman langsung berubah, ia sadar kubu Mishil telah memenangkan ronde pertama kompetisi.

Sinopsis The Great Queen Seon Deok Episode 32

Tayang Kamis, 24 Desember 2009 pukul 17:00 WIB di Indosiar

Untuk ronde pertama ujian demi menentukan pungwolju, Munno sengaja mengetes ketelitian para kontestan dalam mengamati situasi sekeliling.

Dengan lancar, Bojong (Baek Do-bin) mampu menjawab pertanyaan Munno (Jung Ho-bin) seputar pentingnya bagi seorang komandan untuk mengamati situasi sekelilingnya baik dalam keadaan normal maupun perang. Tanpa ragu-ragu, Munno menyebut pemenang ronde pertama adalah Bojong.

Di kediamannya, Mishil (Go Hyeon-jeong) tersenyum gembira karena sadar Munno telah menerapkan apa yang pernah diajarkan oleh mendiang Raja Jinheung : jangan pernah memusatkan perhatian hanya pada satu hal melainkan pada keseluruhan.

Tugas kedua dari Munno terhadap para kontestan sukses membuat wajah Mishil berubah : dalam waktu tiga hari, mereka harus menemukan tiga makna dibalik nama Shilla yang juga merupakan definisi dari hwarang. Masing-masing kubu berusaha menginterpretasikan berdasarkan apa yang sudah diketahui selama ini.

Namun, belum ada yang bisa menemukan makna ketiga dari nama Shilla. Tiba-tiba, Putri Deokman (Lee Yo-won) teringat dengan pembicaraan terakhirnya bersama Munno, dan mulai curiga kalau topik tersebut berkaitan dengan tugas kedua yang diberikan sang penasehat hwarang.

Dengan wajah geram, Mishil meyakini bahwa tidak ada satu pihakpun yang bisa menjawab dan memerintahkan kubunya untuk tidak berusaha mencari tahu jawaban pertanyaan Munno. Sudah tentu hal ini membuat para bawahannya heran, satu-satunya yang langsung mengiyakan adalah Sejong (Dok Go-young).

Rupanya semua berkaitan dengan Raja Jinheung (Lee Soon-jae), yang di masa pemerintahannya menyuruh Geochilbu untuk menuliskan makna ketiga dari nama Shilla ke dalam buku sejarah kerajaan Guksa. Namun begitu memasuki masa pemerintahan Raja Jinji (Im Ho), bagian yang memuat definisi ketiga tersebut diganti sementara tulisan aslinya dibakar.

Kejadian tersebut kontan menyulut kemarahan para bangsawan. Diam-diam dibelakang layar terjadi kesepakatan untuk menggulingkan Raja Jinji, mereka mulai bergerak dengan mendekati Mishil. Setelah Munno menyatakan tidak akan ikut campur, Mishil dan para bangsawan mulai bergerak.

Meski sukses, Geochilbu kuatir dengan gerak-gerik Mishil. Ketakutannya terbukti ketika bicara empat mata dengan sang pemegang segel kerajaan, yang menyebut berambisi menjadi ratu untuk memenuhi ambisi Raja Jinheung. Dengan tegas, Geochilbu menentang rencana Mishil. Namun setelah mengutus Munno untuk menyerahkan surat pada Raja Jinpyeong muda (Baek Jong-min), Geochilbu meninggal tanpa diketahui penyebabnya.

Di perpustakaan kerajaan, Yushin (Uhm Tae-woong) dan Alcheon (Lee Seung-hyo) yang berniat mencari tahu soal makna ketiga Shilla kalah cepat dari Bojong (Baek Do-bin) dan Seokpum (Hong Kyung-in). Namun tiba-tiba Seolwon (Jun Noh-min) muncul, dan memerintahkan keduanya untuk tidak lagi meneruskan pencarian.

Di perpustakaan, Yushin menyadari bahwa salah satu buku sejarah Guksa ternyata memiliki segel yang berbeda. Kecurigaan tersebut disampaikan pada Putri Deokman, yang kemudian menanyakannya pada Raja Jinpyeong (Jo Min-ki). Dari situ baru ketahuan bahwa setelah perpustakaan kerajaan dirusak Raja Jinji, Sejong-lah yang ditugaskan menulis ulang bagian yang hilang.

Satu-satunya petunjuk adalah mencari tahu siapa Geochilbu, pejabat yang ternyata memiliki banyak prestasi. Dari penuturan Yushin, Putri Deokman mulai yakin bahwa Mishil telah mengetahui jawaban dari pertanyaan Munno namun tidak ingin ada satu pun yang tahu. Penyelidikan dilanjutkan ke biara Heungnyun, tempat dimana Geochilbu pertama kali merampungkan kitab sejarah Guksa.

Seperti yang sudah ditebak, Putri Deokman berusaha menelusuri peninggalan Geochilbu di di biara Heungnyun namun tidak menemukan petunjuk apa-apa. Saat mengunjungi ibunya Putri Manmyeong (Im Ye-jin), Yushin melihat patung peninggalan Geochilbu dan tiba-tiba teringat sesuatu.

Dengan cepat Yushin berlari kembali ke biara Heungnyun, dimana Putri Deokman ternyata juga telah menemukan petunjuk. Keduanya terkejut saat tahu petunjuk tersebut ternyata berkaitan dengan sebuah benda yang telah lama dimiliki Putri Deokman.

Sinopsis The Great Queen Seon Deok Episode 33

Tayang Jumat, 25 Desember 2009 pukul 17:00 WIB di Indosiar

Petunjuk yang ditinggalkan oleh Geochilbu ternyata berkaitan dengan belati kecil peninggalan Raja Jinheung.

Setelah batas waktu tiga hari habis, para hwarang kembali berkumpul dan Munno (Jung Ho-bin) mengulangi pertanyaannya mengenai makna ketiga dari nama Shilla. Melihat semuanya terdiam, Mishil (Go Hyeon-jeong) dengan penuh kemenangan menyebut kalau ronde tersebut berakhir imbang.

Tiba-tiba Yushin (Uhm Tae-woong) angkat bicara dengan dengan terperinci menjelaskan makna ketiga Shilla. Mata Munno langsung berbinar-binar, namun ia harus menahan kecewa ketika Yushin menyebut belum bisa menjelaskan artinya secara detil. Dengan suara mantap, Munno menetapkan Yushin sebagai pemenang ronde kedua.

Mishil tidak mudah dibohongi, ia sadar kalau Putri Deokman (Lee Yo-won) dan Yushin sudah tahu apa arti makna ketiga nama Shilla. Ketika berdiskusi dengan Munno, Putri Deokman dengan tepat mampu menebak alasan kenapa sang penasehat menentangnya menjadi pemimpin Shilla : sebagai wanita, Putri Deokman dianggap tidak akan mampu memenuhi cita-cita pendiri Shilla.

Keinginan untuk memenuhi para pendahulu Shilla juga dirasakan oleh Yushin. Saat berdiskusi dengan ayahnya Kim Seohyeon (Ju Sung-mo), Yushin menyebut bahwa untuk memenuhi cita-cita tersebut, keinginan bangsa Gaya untuk menjadikannya sebagai raja harus dilepas demi mengejar cita-cita yang lebih besar : mempersatukan tiga kerajaan.

Perdebatan antara Putri Deokman dan Munno makin sengit, apalagi ketika sang penasehat secara tersirat menyatakan bahwa secara kemampuan, Mishil lebih pantas jadi pemimpin. Namun dengan mantap Putri Deokman menyebut bahwa Mishil sama sekali tidak pantas, karena ia tidak pernah punya cita-cita untuk memenuhi impian para pendahulu Shilla.

Mendengar ucapan Putri Deokman, ingatan Bidam (Kim Nam-gil) langsung melayang ke masa lalu, dimana Munno telah menyiapkan peta geografi Goguryeo dan Baekje. Namun, sebuah kejadian membuat peta tersebut sempat jatuh ke tangan kelompok penjahat, dan pada akhirnya mengubah hubungan Munno dan Bidam selamanya.

Untuk memastikan kalau peta geografi yang pernah diperjuangkan mati-matian masih ada ditempatnya, Bidam mengunjungi biara empat peta tersebut disimpan. Tidak sengaja menemukan sebuah surat bertuliskan nama Hyeonjong, Bidam terkejut saat tahu tanggal kelahiran Hyeonjong sama persis dengannya.

Mishil kembali melakukan langkah yang mengejutkan, ia mengunjungi Yushin yang tengah berlatih keras sambil menyatakan harapannya supaya sang hwarang berusaha keras memenangkan duel melawan Bojong (Baek Do-bin) yang notabene adalah putranya sendiri.

Demi menyelidiki asal-usulnya, Bidam meminta ijin pada Putri Deokman untuk masuk ke perpustakaan istana. Aksinya terlihat oleh Seolwon (Jun Noh-min), yang terkejut saat tahu apa yang telah dibaca pria itu. Saat berjalan keluar, Bidam berpapasan dengan Mishil.

Pembicaraan antara keduanya tidak bisa dihindari, wajah Mishil sempat berubah saat Bidam menceritakan kalau Munno pernah mengatakan dirinya mirip dengan wanita itu. Sebelum berpisah, Mishil memberikan satu nasehat kecil, yang membuatnya merasa semakin ada ikatan dengan Bidam.

Begitu sampai ke kediamannya, Bidam dimarahi habis-habisan oleh Munno karena lancang membuka-buka peta Tiga Kerajaan. Tidak tahan lagi mendapat perlakuan tidak adil, Bidam mencurahkan isi hatinya yang merasa diacuhkan Munno sejak tragedi dimana dirinya yang masih kecil membantai para perampok yang sempat mencuri peta Tiga Kerajaan.

Kejadian tersebut membuat Bidam semakin terluka, ia menemui Putri Deokman sambil berjanji bakal membuat Yushin sebagai pungwolju alias kepala divisi hwarang. Untuk itu, Bidam nekat mendatangi balai pertemuan dan didepan semua orang menyebut ingin bergabung di ronde ketiga kompetisi yang ditetapkan Munno : duel antara para hwarang.

Sinopsis The Great Queen Seon Deok Episode 34

Tayang Senin, 28 Desember 2009 pukul 17:00 WIB di Indosiar

Kemunculan Bidam di arena seleksi akhir pemilihan pungwolju membuat semua pihak yang hadir terkejut.

Dikutip dari http://www.indosiar.com/sinopsis/83633/the-great-queen-seon-deok-episode-34 [Edisi online: Senin, 28 Desember 2009] — Ucapan Bidam (Kim Nam-gil) yang mengaku sebagai murid Munno (Jung Ho-bin) membuat semuanya terkejut, karena itu berarti dirinya berhak tampil di kompetisi. Namun sebagai pemimpin acara, pungwolju sebelumnya Hojae (Go Yoon-hoo) menyebut bahwa jumlah peserta sudah tidak bisa ditambah lagi.

Namun, dengan sengaja Bidam memprovokasi peserta hingga salah seorang diantaranya Seonggo menghunus pedang. Belum sempat bertindak apa-apa, hwarang tersebut ambruk dan mengalami cedera sehingga tidak bisa ikut berkompetisi. Kemunculan Munno, yang menahan geram, untuk mengkonfirmasi ucapan Bidam akhirnya membuat pria itu berhak turun di kompetisi.

Dengan gayanya yang kocak, Bidam mulai memprovokasi para pentolan hwarang yang ikut bertarung Bakui (Jang Hee-woong) dan Deokchung (Suh Dong-won). Bahkan dengan nekat Bidam masuk ke dalam kemah Bojong (Baek Do-bin) dan Seokpum (Hong Kyung-in), hwarang yang bakal menjadi lawan pertamanya.

Aksi Bidam yang melancarkan perang urat syaraf ke semua pihak secara tidak sengaja terlihat oleh Putri Deokman (Lee Yo-won), yang langsung menegurnya. Saat bicara serius, Bidam mengaku bahwa apa yang dilakukannya adalah demi memastikan Yushin (Uhm Tae-woong) tampil sebagai pemenang.

Seperti yang sudah diduga, para peserta unggulan seperti Yushin, Bidam, Alcheon (Lee Seung-hyo), dan Bojong tidak kesulitan menghadapi lawan-lawan mereka. Di istana, krisis terbaru dialami oleh Raja Jinpyeong, yang sangat kaget saat tahu kalau Kim Chunchu (Yoo Seung-ho) bakal tiba di Seorabol dengan kawalan orang kepercayaan Mishil.

Berita kalau Chunchu yang adalah anak mendiang Putri Cheonmyeong bakal tiba di ibukota membuat gembira Sejong (Dok Go-young), namun wajahnya berubah saat tahu perjalanan terhambat karena satu hal : Chunchu harus ditandu karena tidak bisa menunggang kuda, kemampuan yang di masa itu wajib dimiliki seorang pria.

Penuturan tersebut membuat Misaeng (Jung Woong-in) tertawa terbahak-bahak, namun tatapan Sejong dan Hajong (Kim Jung-hyun) membuatnya tersadar akan satu hal : dirinya sama seperti Chunchu. Dengan sedikit gelagapan, Misaeng menyebut bahwa meski tidak bisa menunggang kuda, ia memiliki kemampuan lain yang bisa menutupi kelemahan tersebut.

Sifat Chunchu yang sulit diatur membuat rombongan kerajaan yang dipimpin oleh Daenambo (Ryu Sang-wook), hwarang yang bertanggung jawab atas kematian sang ibu, kerepotan. Bahkan kalau saja tidak mengingat bahwa Chunchu adalah keturunan raja, Daenambo nyaris saja menghajar pemuda itu.

Tidak kehabisan akal, Daenambo berusaha mengajari Chunchu cara menunggang kuda. Sempat gembira saat sang majikan mau menurut, Daenambo kembali dibuat kesal karena Chunchu mengaku sudah lelah meski baru saja hendak menaiki kuda. Penderitaan Daenambo semakin lengkap ketika Chunchu meminta supaya dicarikan penginapan untuk beristirahat.

Menjelang partai semifinal, para kontestan yang terdiri dari Yushin, Alcheon, dan Bojong sibuk mempersiapkan diri meski tubuh mereka lebam. Satu-satunya yang paling santai adalah Bidam, yang malah asyik tidur. Partai pertama mempertemukan Yushin dan Alcheon, yang berakhir dengan kemenangan Yushin.

Partai kedua tidak kalah seru, Bojong harus berhadapan dengan Bidam yang kemampuannya tidak boleh diremehkan. Mendapat bocoran soal kelemahan sang lawan, Bojong sengaja menyerang kaki kiri Bidam yang terluka. Sempat diatas angin, siapa sangka Bojong berhasil dikalahkan oleh Bidam yang menggunakan jurus rahasia yang dipelajarinya diam-diam dari Munno.

Wajah Munno langsung berubah saat melihat Bidam bisa mempelajari jurus andalannya, tanpa ragu Hojae mengumumkan Bidam sebagai pemenang. Namun siasat Bidam masih belum selesai, ia meminta supaya pertandingan melawan Yushin langsung digelar di hari itu.

Pertarungan keduanya berlangsung setelah matahari terbenam, baik Yushin maupun Bidam sempat mengambil ancang-ancang cukup lama sebelum memulai pertarungan. Sayangnya, Bidam sengaja mengalah sehingga pertarungan berlangsung berat sebelah.

Aksi tersebut terlihat oleh Chilseok (Ahn Kil-kang), yang langsung bicara dengan nada keras kalau pertarungan tersebut dipenuhi kecurangan. Ditengah kemelut tersebut, tiba-tiba muncul seorang pria yang sudah tidak asing lagi ditengah-tengah hwarang.

Sinopsis The Great Queen Seon Deok Episode 35

Tayang Selasa, 29 Desember 2009 pukul 17:00 WIB di Indosiar

Dituding berbuat curang dengan sengaja mengalah, Bidam berusaha berkelit.

Dikutip dari http://www.indosiar.com/sinopsis/83640/the-great-queen-seon-deok-episode-35 [Edisi online: Selasa, 29 Desember 2009] — Sebagai orang yang berhak memberi keputusan, Munno (Jung Ho-bin) membenarkan Chilseok (Ahn Kil-kang) kalau pertandingan berlangsung curang. Sebagai konsekuensinya, ronde terakhir dianggap tidak ada dan keputusan akan diambil bersama komite yang terdiri dari Hojae (Go Yoon-hoo), Mishil (Go Hyeon-jeong), dan Putri Deokman (Lee Yo-won).

Di dalam ruang rapat, perdebatan berlangsung sengit antara Putri Deokman dan Mishil. Chilseok akhirnya mengajukan usul : Yushin (Uhm Tae-woong) sebagai finalis harus menghadapinya dan bila bisa menahan 10 pukulan, maka hwarang itu dianggap sebagai pemenang.

Keputusan tersebut kontan membuat kubu pendukung Yushin pucat, sementara kubu Mishil pimpinan Seokpum (Hong Kyung-in) tersenyum senang. Dengan tubuh penuh memar, Yushin yang memegang pedang kayu dengan tangan gemetar langsung ambruk begitu mendapat serangan pertama dari Chilseok.

Namun bukan Yushin namanya kalau menyerah begitu saja, ia berusaha bangun meski dengan susah-payah. Hal itu terjadi berulang kali walau secara fisik sudah tidak memungkinkan bagi pimpinan klan Kembang Naga itu untuk bertahan. Melihat kegigihan sang bawahan, air mata Putri Deokman dan mereka yang hadir mengalir.

Teriakan pemberi semangat berkumandang yang dimulai dari klan Kembang Naga hingga terakhir Bojong (Baek Do-bin), yang notabene adalah musuh bebuyutan Yushin, ikut bersuara. Dengan sisa tenaga terakhir, Yushin akhirnya ambruk begitu pukulan kesepuluh Chilseok dilontarkan.

Siapa sangka sebelum pingsan, Yushin sempat memasukkan sebuah pukulan telak. Dengan jiwa ksatria, Chilseok mengakui kekalahannya. Pengakuan tersebut langsung disambut oleh sorak-sorai para hwarang termasuk Bojong.

Di Seorabol, Jukbang (Lee Moon-shik) yang tidak sadar dengan siapa dirinya berhadapan terus berusaha memberi pengertian pada Chunchu (Yoo Seung-ho) tentang situasi politik Shilla terutama tentang kubu-kubu yang ada di istana.

Di kediamannya, Munno telah ditunggu oleh Bidam yang terus berlutut. Mengira kalau dirinya bakal diasingkan, Bidam terperangah ketika gurunya malah bersikap sabar sambil mengatakan kalau masih banyak yang harus dipelajari oleh sang murid selain sekedar menang-kalah.

Sikap sang guru membuat Bidam bingung, namun suasana hatinya yang mulai tenang semakin kacau begitu bertemu Mishil yang langsung menyindir perbuatan pemuda itu. Mengunjungi kediaman Yushin untuk meminta maaf langsung pada Putri Deokman, wajah Bidam langsung muram begitu melihat betapa besarnya perhatian sang putri pada bawahannya tersebut.

Memanfaatkan keluguan Jukbang dan penduduk desa, Chunchu mulai bisa mengira-ngira apa saja yang telah terjadi di Seorabol. Kehadirannya sendiri belum terlacak siapapun, bahkan tak kurang dari kubu Mishil disibukkan oleh pencarian sang pangeran.

Yang menarik, Chunchu sendiri ternyata sudah tahu Daenambo (Ryu Sang-wook)-lah orang yang paling bertanggung jawab atas kematian ibunya. Begitu melihat kehadiran Daenambo, emosi Alcheon langsung meledak, keduanya nyaris saja terlibat perkelahian di tengah kota.

Namun sebelum semuanya terjadi, Chunchu muncul dan menyebut kalau dirinya sudah memaafkan Daenambo. Kemunculan Chunchu sontak langsung membuat penghuni istana gempar, terutama Putri Deokman yang sudah tidak sabar lagi melihat putra dari sang kakak.

Siapa sangka, Chunchu bersikap dingin dan secara terang-terangan menyatakan tidak butuh perhatian Putri Deokman. Dengan senyum penuh misteri, Chunchu secara tersirat menyatakan maksud dibalik kedatangannya kembali ke kerajaan Shilla.

Langkah pertama yang diambil sang pangeran sangat mengejutkan. Menolak pengawalan Alcheon, Chunchu malah lebih memilih didampingi Daenambo dan tidak menolak ketika Misaeng (Jung Woong-in) menyatakan siap menemani pemuda itu berkeliling Seorabol.

Setelah kondisinya pulih, Yushin dipanggil menghadap dewan pimpinan hwarang untuk secara resmi ditunjuk sebagai pungwolju. Siapa sangka, disana kubu Mishil yang diwakili oleh Seolwon (Jun Noh-min) mengeluarkan kartu as mereka yang langsung membuat Yushin terdiam.

Sinopsis The Great Queen Seon Deok Episode 36

Tayang Rabu, 30 Desember 2009 pukul 17:00 WIB di Indosiar

Di depan rapat, Seolwon langsung menyinggung masalah pengungsi Gaya yang belakangan diketahui berada di tanah milik keluarga Yushin.

Dikutip dari http://www.indosiar.com/sinopsis/83660/the-great-queen-seon-deok-episode-36 [Edisi online: Rabu, 30 Desember 2009] — Yushin (Uhm Tae-woong) tidak berkutik ketika Seolwon (Jun Noh-min) menuding kalau gerakan separatis Bokyahwe telah kembali dimulai. Tudingan tersebut membuat Yushin tidak tahan lagi, namun ucapan sang hwarang malah membuat posisinya makin terpojok.

Saat bicara empat mata, Putri Deokman (Lee Yo-won) langsung membentak Mishil (Go Hyeon-jeong) dengan menyebut apa yang dilakukan kubu wanita itu terhadap Yushin adalah konspirasi terselubung. Mishil langsung tersenyum penuh kemenangan, dan langsung mengutarakan bahwa biarpun sang putri begitu mempercayai Yushin, namun asal-usulnya sebagai keturunan bangsa Gaya tidak bisa dilupakan begitu saja.

Begitu diberitahu kalau muncul keberatan yang diajukan kubu Mishil, Kim Seohyeon (Ju Sung-mo) memutuskan untuk menemui Raja Jinpyeong (Jo Min-ki) demi menyampaikan isi hatinya. Ia tidak sadar bahwa diantara anak buah kepercayaannya, ada mata-mata Mishil.

Tidak cuma dipusingkan oleh masalah Yushin, kubu istana juga dibuat kebingungan oleh sikap Kim Chunchu (Yoo Seung-ho) yang sejak pulang ke Seorabol kerap keluar dari istana bersama Misaeng (Jung Woong-in). Kesamaan keduanya, termasuk soal menunggang kuda, membuat sang pangeran cepat akrab dengan adik Mishil tersebut.

Bahkan, dengan berani Misaeng membawa Chunchu ke sebuah tempat pelesiran dan menunjukkan satu-persatu gadis terbaik disana. Diam-diam, Misaeng punya rencana sendiri untuk menarik Chunchu menjadi bagian dari kubu Mishil.

Demi mendengar langsung penjelasan Yushin, Munno (Jung Ho-bin) memanggil hwarang tersebut. Ucapan Yushin yang menyebut kalau dirinya sengaja memberikan tanah milik keluarga demi tujuan yang lebih besar yaitu mengintegrasikan bangsa Gaya sebagai bagian dari Shilla sekaligus mewujudkan cita-cita penyatuan tiga kerajaan membuat sang penasehat terkejut, ia tidak menyangka tujuan Yushin begitu mulia.

Tidak mau menyerah begitu saja, Yushin balik menggertak dengan menyebut niat Mishil dan Seolwon untuk menjadikan Bojong (Baek Do-bin) sebagai pungwolju bakal ditentang banyak pihak. Siapa sangka, Seolwon mampu memberi bukti berupa pernyataan Yushin yang menyerahkan tanahnya pada bangsa Gaya. Rupanya, bukti tersebut dicuri oleh mata-mata kubu Mishil dari kediaman Kim Seohyeon.

Dalam posisi yang semakin sulit, Putri Deokman meminta Yushin untuk mengorbankan Seolji (Jung Ho-geun). Permintaan tersebut langsung ditolak, Yushin menyebut bahwa kubu Mishil tidak akan puas dan pasti bakal meminta korban baru. Ucapan itu membuat air mata Putri Deokman jatuh, itu berarti ia harus mengorbankan Yushin.

Di kediamannya saat dikunjungi oleh Bidam (Kim Nam-gil), Putri Deokman akhirnya mengaku sambil terisak bahwa ia sangat menyesal tidak bisa menunjukkan perasaan yang sesungguhnya pada Yushin. Di saat yang sama kepada Munno (Jung Ho-bin), Yushin menyebut bakal tetap menjalankan apa yang sudah direncanakannya.

Pertemuan dengan Yushin membuat Munno berpikir ulang tentang pandangannya terhadap Putri Deokman dan siapa pewaris cita-citanya untuk menyatukan tiga kerajaan. Saat berpapasan dengan Bidam, sang murid langsung menyatakan ketidakpuasannya dengan sang guru perihal peta tiga kerajaan yang disembunyikan, namun Munno hanya bicara singkat sebelum kemudian pergi.

Saat tengah membuntuti, Bidam melihat Misaeng tengah bersama Chunchu masuk ke sebuah tempat judi. Berhasil ikut menyelinap masuk, pria itu melihat bahwa dengan sengaja Misaeng membiarkan Chunchu terus menang judi.

Dengan isyarat, Bidam memberitahu Chunchu kalau dirinya sengaja dibiarkan menang. Namun Chunchu ternyata bukanlah pria bodoh, dengan senyum khasnya ia kembali membalas isyarat tersebut dengan mengatakan kalau dirinya sudah tahu semuanya.

Usaha kubu Mishil untuk menarik Yushin supaya bisa bergabung membuat Putri Deokman sedih, bahkan usaha Sohwa (Seo Young-hee) untuk menghibur gagal. Di luar kediaman sang putri, Yushin terus berdiri sambil memandang ke dalam dengan penuh kesedihan. Setelah berpikir matang, Yushin memutuskan untuk menemui Mishil.

Setelah malam tiba, Munno memasuki sebuah rumah yang ternyata ditempati oleh Yeomjong, orang yang selama ini membantunya menyusun peta tiga kerajaan. Pada pria yang juga lihai sebagai mata-mata itu, Munno menyampaikan niatnya untuk menyerahkan peta yang dibuat pada Yushin.

Ucapan tersebut didengar oleh Bidam, yang langsung terpukul karena sang guru melanggar janji yang diucapkannya bertahun-tahun lalu. Rupanya Munno punya pertimbangan sendiri, ia terkesan dengan ketulusan Yushin yang berani mengorbankan dirinya untuk tujuan yang lebih besar.

Mendengar kalau Yushin sempat lama menunggu di luar kediamannya, Putri Deokman memutuskan untuk menyusul pria itu. Apa yang dilihat selanjutnya sama sekali tidak terbayangkan, Yushin berlutut didepan Mishil dan menyatakan siap untuk takluk.

Sinopsis The Great Queen Seon Deok Episode 37

Tayang Kamis, 31 Desember 2009 pukul 16:30 WIB di Indosiar

Putri Deokman sangat terpukul saat mendengar Yushin telah setuju untuk menikah dengan Yeongmo putri Hajong.

Dikutip dari http://www.indosiar.com/sinopsis/83669/the-great-queen-seon-deok-episode-37 [Edisi online: Kamis, 31 Desember 2009] — Berusaha menutupi kegundahannya, Putri Deokman (Lee Yo-won) mendatangi kediaman Mishil (Go Hyeon-jeong) untuk memberi selamat atas rencana pernikahan Yushin (Uhm Tae-woong) dan Yeongmo (Qri). Namun, keduanya sama-sama tahu bahwa Yushin tidak akan semudah itu beralih ke kubu Mishil.

Di luar saat bertemu Yushin, Putri Deokman menyesalkan keputusan pria itu untuk merapat ke kubu Mishil demi menyelamatkan bangsa Gaya. Sang putri sangat terkejut saat mendengar bahwa tujuan Yushin adalah mengabdi untuk kerajaan Shilla sambil berharap sang putri kelak bisa menjadi penguasa yang jauh lebih baik dari para pendahulunya.

Di kediaman Bojong (Baek Do-bin), Misaeng (Jung Woong-in) dan Seolwon (Jun Noh-min) sibuk mendandani Borang (Park Eun-bin) sebelum gadis itu dipertemukan dengan Kim Chunchu (Yoo Seung-ho). Tujuannya hanya satu : memastikan sang pangeran tertarik dengan putri Bojong tersebut sehingga kelak sosoknya merapat ke kubu Mishil.

Konflik antara Munno (Jung Ho-bin) dan Bidam (Kim Nam-gil) kembali pecah saat sang murid mempertanyakan pilihan Munno untuk menyerahkan peta geografi tiga kerajaan pada Yushin. Dengan marah, Munno menyebut bahwa hal itu dilakukannya karena dirinya tidak mempercayai Bidam, yang dianggap sangat mirip Mishil.

Belum usai soal masalah Yushin yang bakal menikah dengan cucu Mishil, Putri Deokman dipusingkan oleh Chunchu yang kerap bermain-main dan menolak belajar saat dididik Alcheon (Lee Seung-hyo). Tahu kalau sang putri tengah bersedih, Sohwa (Seo Young-hee) berusaha menghibur dengan menunjukkan boneka yang mengingatkan keduanya akan kehidupan di gurun.

Geram karena sang guru dianggap telah bertindak tidak adil, Bidam mencegat Munno yang tengah membawa peta tiga kerajaan dan menantang pria itu untuk berduel. Pertarungan sempat berjalan seimbang…sampai Munno mengeluarkan jurus andalannya dan membuat Bidam keteteran.

Namun dari semak-semak, seorang pria bertopeng sukses meniupkan jarum beracun ke Munno, yang langsung ambruk. Sempat menyatakan penyesalannya karena gagal menjadi guru yang baik, Munno berpesan supaya Bidam mengikuti jejak Yushin dan mengabdi pada Putri Deokman. Tak lama kemudian, Munno menghembuskan napas terakhirnya.

Tingkah laku Chunchu yang membuat semua orang jengkel semakin menjadi-jadi, kali ini ia menghina Yushin saat pria itu tengah mengajarinya cara berduel dengan pedang. Dengan sengaja, Chunchu menyebut Yushin sebagai pria oportunis. Sikap sinis Chunchu malah membuat Yushin tersenyum, ia langsung teringat dengan pertemuan pertamanya dengan mendiang Putri Cheonmyeong.

Di tengah rapat membahas para hwarang, tiba-tiba Bidam muncul dengan pakaian rapi. Sambil membawa surat pengantar dari Munno, Bidam menyebut siap tinggal di Seorabol sebagai pewaris sang guru yang telah kembali ke Gunung Taebaek.

Setelah menyatakan kesiapannya menjadi hwarang, Bidam menjalankan niatnya yang lain : membantai Yeomjong, dalang dibalik meninggalnya sang guru. Namun pria itu ternyata cukup cerdik, ia mampu membuat Bidam mengurungkan niatnya.

Dibawah todongan pedang, Bidam meminta Yeomjong untuk menunjukkan dimana peta geografi tiga kerajaan disembunyikan. Namun begitu sampai disana, lembaran-lembaran peta tersebut ternyata telah digunakan sebagai mainan oleh seorang pemuda yang tidak asing lagi.

Sinopsis The Great Queen Seon Deok Episode 38

Tayang Jumat, 1 Januari 2010 pukul 16:30 WIB di Indosiar

Dikutip dari http://www.indosiar.com/sinopsis/83674/the-great-queen-seon-deok-episode-38 [Edisi online: Kamis, 31 Desember 2009] — Kesal dengan sikap Chunchu (Yoo Seung-ho) yang kekanak-kanakan, Bidam menggunakan sarung pedangnya untuk menghajar pemuda yang tidak tahu diri itu. Tidak hanya sampai disana, Bidam juga menyuruh Chunchu kembali menyusun lembaran kertas yang telah disobeknya.

Sempat keluar ruangan bersama Yeomjong untuk mencari tahu alasan keberadaan Chunchu, Bidam kembali dibuat kesal karena saat kembali, pemuda itu tengah tertidur. Tiba-tiba Bidam tersadar sesuatu : Chunchu mampu mengingat halaman buku yang disobek dan menyusunnya sesuai dengan urutan. Dari situ ia sadar kalau Chunchu bukan pemuda biasa.

Hal terakhir yang harus diselesaikan oleh Bidam adalah membunuh Yeomjong, otak dibalik kematian Munno. Namun di tempat sepi, Yeomjong malah tertawa dan menyebut kalau dirinya dan Bidam sama-sama bertanggung jawab. Meski kesal, Bidam sadar kalau ucapan tersebut benar adanya.

Usai melampiaskan kekesalannya dengan memukul Yeomjong habis-habisan, Bidam mulai tergoda ketika pria itu berjanji bakal menggunakan kumpulan mata-mata miliknya untuk memenuhi ambisi putra Mishil tersebut. Sebagai tanda mata, Bidam menggores wajah Yeomjong sambil mengancam supaya tidak berani menentangnya.

Setelah pelantikan Yushin (Uhm Tae-woong) sebagai pungwolju, Putri Deokman (Lee Yo-won) mulai mencari tahu alasan kenapa kerajaan Shilla yang teritorinya luas belum bisa makmur. Dari penuturan Yongchun (Do Yi-sung), baru ketahuan kalau selama ini lahan tidak pernah dikelola dengan baik karena kualitas alat pertanian yang buruk.

Masalah pangan mulai mencuat ketika harga-harga merangkak naik, bahkan sempat terjadi kemelut di pasar yang berakibat terbunuhnya seorang pedagang. Bersama para bawahannya, Putri Deokman memutuskan untuk mengecek keadaan pasar. Terjadi keanehan : meski mempunyai stok barang, para pedagang menolak menjual bahan pangan milik mereka.

Mengikuti gerakan beberapa pedagang, Jukbang (Lee Moon-shik) dan Godo (Ryu Dam) melihat kereta berisi bahan pangan masuk ke rumah milik Seolwon (Jun Noh-min) dan Bojong (Baek Do-bin). Hal yang sama ternyata juga dilakukan oleh Hajong (Kim Jung-hyun), yang membeli bahan makanan dalam jumlah besar.

Jukbang langsung melaporkan apa yang ditemuinya dan Putri Deokman berhasil mengambil kesimpulan : para bangsawan sengaja menimbun barang hingga harga tinggi sebelum kemudian kembali dijual alias bermain spekulasi. Sayangnya ketika dilaporkan ke Raja Jinpyeong (Jo Min-ki), sang raja tidak bisa berbuat banyak karena praktek tersebut telah berlangsung puluhan tahun.

Terus-menerus kabur dari pelajaran dan kerap kedapatan tengah bersenang-senang di kediaman Borang (Park Eun-bin), Chunchu akhirnya kena batunya. Oleh Yushin, seorang guru baru ditempatkan untuk mendidik sang pangeran : Bidam.

Berusaha mendapat pemecahan yang memuaskan, Putri Deokman mendatangi kediaman Mishil (Go Hyeon-jeong). Seperti yang telah diduga, Mishil mampu melontarkan pertanyaan yang membuat Putri Deokman harus berpikir keras. Sambil berdiskusi dengan Yushin, Putri Deokman akhirnya mulai mengerti bahwa tujuan lain dari permainan spekulasi yang dilakukan para bangsawan adalah demi mempengaruhi sentimen publik terhadap raja.

Bukan Putri Deokman namanya kalau tidak memikirkan penyelesaian masalah, apalagi dirinya sempat cukup lama hidup di lingkungan kaum pedagang. Atas ijin Raja Jinpyeong, Putri Deokman berhasil menggunakan persediaan pangan istana untuk menghadapi permainan spekulasi para bangsawan.

Begitu tahu langkah Putri Deokman, kubu Mishil sangat terkejut. Yang jadi korban adalah para bawahannya yang tidak mempunyai persediaan dana yang kuat, mereka mulai menjual beras yang ditimbun hingga otomatis harga di pasar jatuh.

Rapat kabinet langsung digelar, dengan terang-terangan Sejong (Dok Go-young) menyatakan keberatan atas keberanian Putri Deokman menggunakan persediaan pangan kerajaan untuk ikut bermain spekulasi. Namun, sang putri hanya tersenyum sambil menyebut kalau dirinya punya cara untuk bisa mendapatkan kembali stok yang dijual.

Mishil yang mulai mengerti akan langkah Putri Deokman menyatakan kalau sang rival tidak akan bisa bertahan lama. Bisa dibayangkan, bagaimana reaksi Mishil dan Sejong saat tahu Putri Deokman berniat menjual semua persediaan pangan istana…termasuk stok yang biasa digunakan untuk berjaga-jaga seandainya terjadi perang.

Sinopsis The Great Queen Seon Deok Episode 39

Tayang Senin, 4 Januari 2010 pukul 16:30 WIB di Indosiar

Dengan jitu, Putri Deokman menggunakan sifat dasar manusia yang ingin menyelamatkan diri sendiri untuk membalas strategi Mishil.

Dikutip dari http://www.indosiar.com/sinopsis/83680/the-great-queen-seon-deok-episode-39 [Edisi online: Kamis, 31 Desember 2009] — Seperti yang diduga, keadaan pasar menjadi kacau dan harga pangan mulai anjlok. Keadaan tersebut diamati dengan cermat oleh Yeomjong, yang atas perintah Bidam (Kim Nam-gil) diminta untuk mulai membeli secara besar-besaran begitu harga mencapai jumlah sepuluh nyang.

Kim Nam Gil Pemeran Bi Dam

Perdebatan antara Putri Deokman (Lee Yo-won) dan Mishil (Go Hyeon-jeong) kembali memanas. Menyebut bahwa kaum bangsawan adalah pilar bagi Shilla, Mishil terkejut saat mendengar ucapan sang putri bahwa meski kepintaran dan strateginya tidak terkalahkan, kehadiran Mishil ternyata tidak mampu membuat Shilla sepeninggal mendiang Raja Jinheung menjadi lebih maju.

Sambil mengamati gerakan Yeomjong, yang terus memuji kecekatan Putri Deokman dalam berdagang, Kim Chunchu (Yoo Seung-ho) mulai menanyakan soal peta Tiga Kerajaan. Namun, wajah sang pangeran langsung berubah ketakutan begitu melihat kemunculan Bidam.

Rapat kabinet akhirnya digelar demi menegur Putri Deokman yang dianggap telah lancang menggunakan persediaan pangan prajurit. Namun, dengan jitu Putri Deokman mampu membeberkan bukti-bukti yang membuat kubu Mishil mati kutu. Bahkan, nyaris saja terjadi baku pukul antara Hajong (Kim Jung-hyun) dan Yongchun (Do Yi-sung).

Meski sudah memenangkan duel strategi dengan Mishil, Putri Deokman ternyata tidak langsung puas dan kembali menenggelamkan diri di tumpukan buku-buku perpustakaan istana. Di saat yang sama, ucapan sang putri terus terngiang-ngiang di telinga Mishil. Paginya, Mishil langsung menuju perpustakaan dan sedikit terkejut melihat Putri Deokman tertidur disana.

Putri Deokman langsung terbangun akibat keributan yang ditimbulkan oleh kemunculan Bidam dan Chunchu. Gadis itu sempat terdiam ketika Mishil berbicara soal kedekatan Chunchu dan Misaeng (Jung Woong-in), namun wajahnya kembali berseri ketika Bidam menyebut bahwa putra mendiang Putri Cheonmyeong itu ikut membantu saat pembelian bahan pangan di pasar.

Tak lama setelah Putri Deokman mendapat ijin untuk menggunakan logam terbaik kerajaan demi memperbaiki kualitas alat pertanian, terjadi pemberontakan di benteng Angang yang merupakan kekuasaan Sejong (Dok Go-young). Rupanya, semua berawal ketika petani mengalami gagal panen akibat hama. Di tengah penderitaan tersebut, tuan tanah dan pemerintah setempat menolak untuk menurunkan pajak.

Sadar kalau situasi tersebut disengaja, Putri Deokman mengajak Sejong dan Hajong untuk bicara mengenai situasi di benteng Angang. Namun, dengan licik keduanya mengajukan usul supaya pajak terhadap mereka dihilangkan demi menyelamatkan rakyat di benteng Angang.

Demi menyelesaikan masalah, Putri Deokman bertekad untuk datang sendiri ke benteng Angang dan menemui pimpinan pemberontak yang menahan pimpinan benteng Angang. Tindakan sang putri tidak cuma membuat bawahannya kelabakan, namun juga membuat Mishil kaget.

Dengan bantuan Yushin (Uhm Tae-woong), Putri Deokman berhasil menemui perwakilan rakyat benteng Angang yang dipimpin oleh seorang pria berusia lanjut. Dari pria tersebut, Putri Deokman diberitahu bahwa tindakan semena-mena penguasa-lah yang membuat rakyat nekat memberontak.

Tidak cuma bakal mengembalikan hasil panen yang biasanya dibayarkan ke pemerintah, Putri Deokman juga menjanjikan alat-alat pertanian berkualitas bagi para penduduk ditambah kesempatan untuk lepas dari perbudakan yang selama ini menghantui.

Sayangnya kepercayaan yang diberikan pada sang putri disia-siakan, para penduduk benteng Angang malah melarikan diri sambil membawa semua barang-barang mereka dan alat pertanian pemberian kerajaan. Kegagalan tersebut membuat Mishil tertawa terbahak-bahak. Di kesempatan terpisah, ia menegur Putri Deokman yang dianggap terlalu naif.

Sindiran Mishil tidak membuat Putri Deokman marah, sambil tersenyum ia malah menyebut bahwa itulah alasan kenapa Mishil tidak bisa memajukan Shilla : karena wanita itu tidak mempunyai kapasitas sebagai pemimpin pemerintahan. Ucapan pedas tersebut kontan membuat tubuh Mishil bergetar hebat.

Dibalik ketegasannya, Putri Deokman ternyata menyembunyikan kegeramannya karena telah ditipu oleh para penduduk benteng Angang. Meski dengan berat hati, sang putri akhirnya mengambil langkah drastis : mengeksekusi dua pimpinan rakyat yang melarikan diri dengan tangannya sendiri.

Credits & Thanks to:

Chingu :-) untuk memberikan komentar gabung bersama para penggemar di Thread asyik QSD http://bit.ly/QueenSeonDeok

Sinopsis Episode 24 25 26 27 28 29 30 The Great Queen Seon Deok


Label Rating : Remaja (R), Bimbingan Orang Tua (BO)

Sinopsis The Great Queen Seon Deok Episode 24

Tayang Senin, 14 Desember 2009 pukul 16:30 WIB di Indosiar

Alcheon

Lee Seung-hyo Pemeran Hwarang Al Cheon

Sebelum berpisah, Putri Cheon Myeong dan Deok Man berpelukan. Keduanya tidak sadar kalau di luar gubuk, bahaya besar telah menanti.

Saat tengah mengendap-ngendap, Dae Nam Bo (Ryu Sang-wook) dikejutkan oleh Al Cheon (Lee Seung-hyo) dan Putri Cheon Myeong (Park Ye-jin) yang mendadak keluar dari gubuk. Sempat gelagapan, Dae Nam Bo beralasan kemunculannya di tempat itu adalah karena kebetulan belaka.

Diam-diam, Dae Nam Bo terus mengikuti Putri Cheon Myeong meski muncul isyarat asap. Isyarat tersebut, yang ternyata dibuat oleh Bi Dam (Kim Nam-gil) dan Im Jong (Kang Ji-hoo), mampu mengelabuhi pasukan pimpinan Bo Jong (Baek Do-bin) dan Seok Bum (Hong Kyung-in).

Sayang, siasat Putri Cheon Myeong yang bertukar identitas dengan Deok Man (Lee Yo-won) terbongkar. Dengan geram, Dae Nam Bo mengarahkan anak panahnya ke arah Deok Man. Untungnya, Yu Shin (Uhm Tae-woong) bergerak cepat. Dae Nam Bo sendiri sempat terlibat perkelahian seru dengan Al Cheon, namun ia bisa meloloskan diri untuk meneruskan misinya.

Sebelum Deok Man berangkat dengan rakit, Putri Cheon Myeong sempat kembali bertemu dengannya untuk melepas sang adik. Tidak ada yang menyangka bahwa dari belakang, Dae Nam Bo mengarahkan anak panahnya ke sang putri karena mengira wanita itu adalah Deok Man. Akibatnya fatal, Putri Cheon Myeong langsung ambruk terkena anak panah beracun.

Sebelum mengungsi, Bi Dam sempat melepas sejumlah anak panah yang salah satunya mengenai Dae Nam Bo. Apes bagi Dae Nam Bo, saat berusaha menghilangkan barang bukti, ia malah bertemu rombongan Bo Jong dan Seok Bum yang dipimpin langsung oleh Seol Won (Jung Noh-min).

Cheon Myeong dibawa ke dalam gua. Deok Man menggenggam tangan Cheon Myeong saat Cheon Myeong berjuang antara hidup dan mati. Bi Dam mencoba mengambil panah dengan mengoperasi Cheon Myeong. Bi Dam merasakan ujung panah dan tahu bahwa itu racun. Bi Dam meludahkan racunnya. Bi Dam berkata itu racun Cho Oh.

Deok Man kaget saat tahu itu panah beracun. Bi Dam berkata racun itu akan mengalir melalui aliran darah Cheon Myeong dalam 2 jam. Deok Man bertanya apa yang harus dilakukan untuk menyelamatkan Cheon Myeong. Bi Dam berkata mereka harus mencari Gam Cho dan Bangpung (2 macam anti racun). Al Cheon berkata mereka harus membawa Cheon Myeong ke tabib. Bi Dam melarang menggerakkan Cheon Myeong, karena racunnya akan lebih cepat bergerak.

Yu Shin bertanya dimana mereka bisa mendapat obat. Dengan sigap, Deok Man memutuskan akan mencari obat, sementara Cheon Myeong ingin Deok Man tetap disisinya dan mendengar perkataannya. Namun, Deok Man berkeras, ia akan mendengar kakaknya setelah ia kembali dengan obat. Untuk pertama kalinya Deok Man memanggil Cheon Myeong dengan sebutan kakak. Deok Man akan mendengar Cheon Myeong setelah ia menyelamatkannya. Deok Man menarik Bi Dam untuk mencari penawar racun.

Di gua tersembunyi, Putri Cheon Myeong meregang nyawa sambil ditemani oleh Yu Shin. Dengan napas tersengal-sengal, sang putri akhirnya mengakui perasaannya pada Yu Shin. Setelah itu, ia meminta Yu Shin untuk terus menjaga Deok Man dan melupakan soal Shilla maupun Mi Shil.

Memacu kudanya secepat mungkin, Bi Dam dan Deok Man berpacu dengan waktu. Sayangnya usaha mereka terlambat. Saat sampai di gua, mereka disambut oleh wajah Al Cheon yang penuh duka. Sempat histeris, saat masuk gua Deokman melihat Yu Shin menemani jasad Putri Cheon Myeong.

Tidak percaya apa yang terjadi, Deok Man langsung menangis sejadi-jadinya saat membuka tudung yang menutupi wajah Putri Cheon Myeong. Dengan penuh duka, Al Cheon membawa jenazah sang putri kembali ke Seorabol, sementara Yu Shin meneruskan tugasnya menjaga Deok Man untuk pergi sejauh mungkin.

Begitu tiba sambil mendorong kereta, Al Cheon disambut oleh rombongan prajurit pimpinan Seol Won. Mengira kalau yang bakal muncul adalah jenazah Deok Man, Seol Won langsung berlutut dengan penuh rasa terkejut saat mendapati yang meninggal adalah Putri Cheon Myeong.

Berita meninggalnya Putri Cheon Myeong langsung membuat semua orang terpukul terlebih Raja Jinpyeong (Jo Min-ki) dan Ratu Maya (Yoon Yoo-sun). Pukulan juga dirasakan oleh kubu Mi Shil (Go Hyeon-jeong), yang langsung memerintahkan untuk menghentikan pencarian Deok Man dan tidak bergerak sebelum mendapat perintah.

Di saat para pejabat Shilla sibuk mempersiapkan pemakaman Putri Cheon Myeong, Deokman yang masih belum bisa lepas dari syok langsung demam. Yu Shin yang merawatnya selama tiga hari tiga malam terkejut karena saat pagi, gadis itu sudah tidak ada di tempat tidurnya.

Rupanya, Deok Man tengah duduk merenung sambil menatap air terjun. Paham atas kesedihan yang dialami gadis itu, Yu Shin berusaha menghiburnya. Ia menyerahkan sisir pemberian Putri Cheon Myeong sambil menyebut pesan terakhir yang disampaikan : Deok Man harus hidup bahagia sebagai seorang wanita dan melupakan Shilla maupun Mi Shil.

Apa yang dilakukan Deok Man selanjutnya sangat mengejutkan, ia menyebut tidak akan menuruti keinginan mendiang Putri Cheon Myeong sambil mematahkan sisir pemberian sang kakak.

Sinopsis The Great Queen Seon Deok Episode 25

Tayang Selasa, 15 Desember 2009 pukul 16:30 WIB di Indosiar

Dengan mata berkaca-kaca, Deok Man mengatakan bahwa masa untuk hidup bahagia bagi dirinya sudah berakhir. Baik Deok Man (Lee Yo-won) maupun Yu Shin (Uhm Tae-woong) tidak melepaskan diri dari perasaan bersalah atas kejadian yang menimpa Putri Cheon Myeong (Park Ye-jin). Begitu Deok Man mengucapkan isi hatinya, Yu Shin cuma bisa berlutut sambil menangis.

Yu Shin mengira waktu bisa mendinginkan Deok Man, namun dirinya keliru. Tekad Deok Man untuk kembali ke Seorabol demi membalas dendam justru semakin kuat, kepergiannya sempat dilihat oleh Bi Dam (Kim Nam-gil). Mengira Deok Man hanya bercanda, Bi Dam cuma bisa terbengong-bengong melihat gadis itu dengan mantap melangkah pergi.

Saat tengah melihat-lihat suasana desa, dimana penduduk mulai bergosip seputar penyebab kematian Putri Cheon Myeong, tiba-tiba Bi Dam ditegur oleh Moon Noh (Jung Ho-bin). Rupanya, sang guru hendak mengajaknya meneruskan perjalanan mereka berkelana.

Namun begitu Bi Dam menyebut berniat menolong Nang Do yang pernah diselamatkannya, Moon Noh melihat ketulusan di mata muridnya. Sempat teringat dengan kejadian di masa lalu saat baru saja menyelamatkan So Hwa (Seo Young-hee), Moon Noh akhirnya mengijinkan Bi Dam menjalankan niatnya dan menyusul setelah semuanya selesai.

Cheon Myeong mendapat penghormatan terakhir. Masyarakat Silla datang memberi hormat dan berlutut di depan petinya. Semua penduduk menangisi Cheon Myeong. Sedang Seol Won Rang, Kim Seo Hyeon dan Alcheon berjaga.

Setelah pemakaman Putri Cheon Myeong selesai, Al Cheon (Lee Seung-hyo) mendadak muncul di istana dengan pakaian lengkap hwarang dan riasan wajah. Dengan lantang, ia berlutut di depan istana sambil menyerukan supaya Raja Jinpyeong mengusut tuntas penyebab kematian sang putri.

Mi Shil tidak kalah cerdik, ia menggelar rapat kabinet bersama para petinggi istana mulai dari Se Jong (Dok Go-young), Eul Jae (Shin Goo), Kim Seo Hyeon (Jung Sung-mo), Yong Chun (Do Yi-sung), Ho Jae (Go Yoon-hoo), Ha Jong (Kim Jung-hyun), hingga Seol Won (Jun Noh-min). Dalam rapat tersebut, Mi Shil membelokkan kecurigaan pada kubu Eul Jae, yang dianggap bertanggung jawab atas kematian Putri Cheon Myeong.

Masih dalam keadaan berduka, Raja Jinpyeong yang lemah akhirnya menyebut kematian putrinya adalah karena kecelakaan. Dengan senyum penuh kemenangan, Seol Won memberitahu kabar tersebut pada Al Cheon sambil mengancam bahwa semua tuduhan tak berdasar bakal berujung hukuman mati. Keruan saja, Al Cheon sangat kecewa mendengar keputusan Raja Jinpyeong.

Begitu kembali ke kediamannya, Mi Shil berniat menghabisi Mi Saeng (Jung Woong-in) yang dianggap telah mengacaukan semua rencananya. Dengan nyawa berada di ujung tanduk, Mi Saeng ternyata mampu menyelamatkan dirinya dengan menjanjikan Mi Shil akan datangnya gerhana matahari dengan bantuan Wol Cheon.

Setelah menyelesaikan masalah dengan adiknya, hal terakhir yang harus dibereskan Mi Shil adalah Seo Ri (Song Ok-sook). Tidak memperdulikan nasehat sang pendeta agung, Mi Shil meninggalkan botol berisi racun sebelum pergi.

Merasa gagal dalam menjaga keselamatan Putri Cheon Myeong, Al Cheon berniat bunuh diri. Namun sebelum sempat menghujamkan pisaunya, ia dihentikan oleh Deok Man. Sempat meminta Nang Do itu tidak ikut campur, Al Cheon sangat terkejut mendengar Deok Man memintanya untuk membantu membalas dendam dan langsung berlutut sambil menyatakan kesetiaannya.

Misi pertama Al Cheon adalah mengantarkan surat ke Raja Jinpyeong dan menemui Ratu Maya (Yoon Yoo-sun) yang tengah terbaring sakit. Di istana, ia bertemu dengan Yu Shin yang baru kembali dan mengkuatirkan keadaan Deok Man. Oleh Al Cheon, Yu Shin diberitahu tempat dimana Deok Man, yang tengah berusaha meyakinkan Bi Dam, bersembunyi.

Kecewa karena merasa tidak dilibatkan, Yu Shin cuma bisa terdiam ketika Deok Man menyatakan alasannya : ia kuatir kalau kehadiran Yu Shin akan melemahkan tekadnya membalas semua perbuatan Mi Shil. Apalagi bila statusnya sebagai putri raja sudah pulih, hubungannya dengan Yu Shin bakal berubah drastis.

Berhasil menyusup masuk sebagai pelayan kuil untuk menemui Ratu Maya, langkah Deok Man berikutnya adalah mengkonfrontir Seo Ri. Saat ditodong pisau, mata Seo Ri terbelalak saat samar-samar melihat bayangan Deok Man sebagai seorang ratu. Belum selesai keterkejutannya, tiba-tiba Seo Ri dikagetkan oleh kedatangan seseorang.

Meminta Deok Man untuk bersembunyi supaya nyawanya selamat, Seo Ri menyambut sang tamu yang tidak lain adalah Mi Shil. Setelah mengatakan bahwa Mi Shil tidak akan pernah menjadi seorang ratu, Seo Ri meminum racun sambil menyampaikan pesan terakhir : satu-satunya orang yang bisa menyelamatkan Mi Shil adalah Guru Wol Cheon dari kuil Hwa Deok.

Rupanya sebelum meninggal, Seo Ri sengaja bicara keras supaya Deok Man yang tengah bersembunyi bisa mendengar semuanya. Setelah kembali ke persembunyiannya, Deok Man berniat untuk menemukan orang yang disebut Seo Ri. Tidak cuma itu, ia juga menyebut niat utamanya : menjadi penguasa Shilla.

Sinopsis The Great Queen Seon Deok Episode 26

Tayang Rabu, 16 Desember 2009 pukul 16:30 WIB di Indosiar

Di kuil Hwa Deok, Wyol Ya dan anak buahnya bersiap menyerbu saat tandu Mi Shil tiba di kuil Hwa Deok. Seo Ji berkata tandu itu dari istana. Wyol Ya memutuskan untuk menunggu. Mi Shil dan Mi Saeng memberi salam pada pendeta Wyol Cheon. Mi Shil berterima kasih atas usaha pendeta yang sangat bagus. Pendeta berkata, So Hwa sangat sulit pulih. Mi Shil berkata ia tidak ingin membicarakan So Hwa. Mi Shil ingin tahu kapan gerhana matahari akan terjadi. Pendeta Wyol Cheon berkata permintaan Mi Shil tidak masuk akal. Mi Shil bertanya apa akan ada gerhana matahari dalam waktu dekat ini.

Wyol Cheon berkata ia adalah ahli matematika dan sains yang percaya pada rumus dan teori matematik. Dia bukan orang yang bisa memprediksi apa akan segera ada gerhana. Mi Shil tahu itu, tapi jika mereka memperoleh salinan Cheong Gwang Ryeol, mungkin akan ada kesempatan untuk menghitung terjadinya gerhana. (Cheong Gwang Ryeol adalah sistem kalender dari dinasti Wei Utara periode 386-534M, berdasar pada perhitungan matahari bulan)

Mi Saeng mengerti bahwa Cheong Gwang Ryeol kurang akurat dibanding Dae Myeong Ryeol. Pendeta setuju, tapi jika mengenai perputaran bumi mengelilingi matahari, Cheong Gwang Ryeol lebih akurat dibanding Dae Myeong Ryeol. Mi Shil mendengar pertama kali tentang Cheong Gwang Ryeol.

Sementara di tempat lain, Deok Man menjelaskan bahwa rakyat negeri ini percaya pada mitos dan kekuatan supranatural. Mi Shil dapat melihatnya dengan baik dan mengambil kesempatan untuk menggunakannya mendapatkan kekuatan. Deok Man berkata jika itu tidak diambil dari Mi Shil, maka Mi Shil tidak akan kalah bahkan jika mereka memiliki kekuatan militer dan Dewan Bangsawan (Hwa Baek), situasinya tidak akan berubah. Ini karena kekuatan Mi Shil berasal dari kepercayaan rakyat padanya. Mereka harus menurunkan reputasi Mi Shil sebagai penjaga stempel kerajaan dan semua mitos mengenai dirinya, jadi pertama yang harus dilakukan adalah Mi Shil harus kehilangan Wyol Cheon.

Deok Man meminta Kim Yu Shin untuk meninggalkannya dan melanjutkan hidupnya sendiri. Deok Man berkata ia tidak akan meminta Yu Shin bersamanya, meskipun ia berpikir Yu Shin seharusnya bersama dengannya. Kim Yu Shin menanyakan alasan Deok Man. Deok Man berkata ia akan memimpin revolusi melawan negara ini.

Deok Man berkata bahwa kakaknya ingin agar dia hidup sebagai orang biasa tapi ia memutuskan untuk melakukan sebaliknya, Deok Man tidak ingin mengambil resiko dengan menyeret Yu Shin dalam jalannya. Yu Shin bertanya apa Deok Man akan selalu teringat dengan Cheon Myeong setiap kali mereka saling memandang satu sama lain sehingga ia selalu merasa menyesal dan bersalah. Lebih dari itu, kata Deok Man. Deok Man berkata setiap kali ia melihat Yu Shin, dia mungkin tidak akan tahan atau menahan emosinya dan hatinya akan selalu menginginkan untuk pergi dengan Yu Shin dan hidup bahagia. Setiap kali ia melihat Yu Shin, hatinya selalu tergoda untuk bergantung pada Yu Shin untuk dukungan dan moral, membuatnya berharap menjadi wanita biasa dan hidup bahagia.

Ini karena Yu Shin selalu mengingatkannya menjadi orang biasa tapi keadaan tidak mengizinkannya. Sulit bagi seseorang dengan perasaan seperti itu untuk memulai revolusi melawan negaranya. Deok Man hanya ingin menyimpan perasaan itu dalam hatinya untuk mengingatkannya bahwa ia adalah manusia. Jika Kim Yu Shin tetap ingin bersamanya, ia hanya akan menjadi bidak dalam catur yang dimainkan Deok Man, hal ini sangat kejam untuk Yu Shin dan membuatnya bersedih. Deok Man memohon Kim Yu Shin untuk melepaskannya. Deok Man pergi dengan hati berat.

Begitu Deokman mengatakan apa yang menjadi cita-citanya, Yushin, Al Cheon, dan Bi Dam terbelalak kaget.

Rencana pertama adalah berusaha membujuk Guru Wol Cheon untuk bergabung. Sayangnya Deok Man bersama Al Cheon (Lee Seung-hyo) dan Bi Dam (Kim Nam-gil) datang terlambat. Sesampainya di kuil Hwa Deok, Guru Wol Cheon telah diculik organisasi misterius yang berniat memerdekakan bangsa Gaya yang dikenal dengan nama Bo Gya Hoe (Bokyahwei).

Begitu melihat kesempatan, Joo Bang (Lee Moon-shik) dan Go Do (Ryu Dam) berhasil melarikan diri sambil membawa So Hwa (Seo Young-hee) yang seperti orang linglung. Namun saat pelarian, So Hwa ambruk terkena panah anak buah Mi Shil dan langsung dibawa pulang ke Seorabol.

Berita soal organisasi rahasia Bo Gya Hoe tidak cuma membuat heboh kubu Mi Shil, yang langsung memerintahkan supaya Guru Wol Cheon bisa ditemukan, namun juga Raja Jinpyeong (Jo Min-ki). Bahkan, target berikutnya Bo Gya Hoe adalah keluarga Kim Seo Hyeon (Ju Sung-mo) yang dianggap bertanggung jawab membuat rakyat Shilla terusir dari Seorabol.

Tidak mampu membujuk sang ayah membuat Yu Shin frustrasi, ia mengalihkan kekesalannya dengan menghantamkan pedang kayunya berulang-ulang ke karang tempatnya berlatih. Mulai frustrasi karena merasa nasib Deok Man sulit ditolong lagi, pikiran Yu Shin seolah terbuka setelah karang yang dihantamnya mendadak terbelah menjadi dua.

Merasa telah mendapat jalan keluar, Yu Shin kembali ke rumah untuk memberitahu Kim Seo Hyeon supaya keluarga mereka berani mempertaruhkan segalanya. Mendadak sebuah panah melesat, pertanda bahwa anggota Bo Gya Hoe bersiap mengincar keluarga Kim Seo Hyeon.

Yu Shin tidak tinggal diam, ia mengejar dan berhasil menundukkan beberapa anggota Bo Gya Hoe yang mengepungnya. Di luar dugaan, Yu Shin menyerahkan diri dan meminta salah seorang diantaranya mengikat dan membawanya ke markas besar Bo Gya Hoe.

Saat melarikan diri, Joo Bang dan Go Do bertabrakan dengan seorang pria yang tengah menempelkan pengumuman di tengah kota. Keesokan harinya, pengumuman yang membeberkan tentang anak kembar Raja Jinpyeong, ramalan kuno bangsa Shilla, hingga keberadaan putri bungsu raja kontan membuat penduduk gempar.

Desas-desus tersebut membuat Raja Jinpyeong murka, ia mengira pelakunya adalah Deok Man. Padahal, dalangnya adalah Se Jong (Dok Go-young) dan Ha Jong (Kim Jung-hyun), yang sudah tidak sabar mendongkel Raja Jinpyeong dari tahtanya. Meski tahu, Mi Shil hanya diam saja karena menganggap cara tersebut adalah cara pengecut. Satu-satunya yang bisa menebak jalan pikiran Mi Shil adalah Seol Won (Jun Noh-min).

Kubu Bo Gya Hoe sangat terkejut saat tahu Yu Shin menyerahkan diri dengan suka rela, ia disambut oleh Seol Ji (Jung Ho-geun). Sempat adu mulut, Seo Ji nyaris saja menebas Yu Shin kalau saja tidak dihentikan oleh Wol Ya (Joo Sang-wook), yang langsung memperkenalkan diri sebagai pimpinan Bo Gya Hoe karena terkesan dengan kenekatan Yu Shin.

Yu Shin ternyata datang dengan penuh perhitungan, ia membawa sertifikat tanah yang merupakan aset keluarganya untuk diberikan pada para pengungsi Gaya yang tengah menderita. Rupanya, Yu Shin berniat menukar semua miliknya dengan kesetiaan para personil Bo Gya Hoe.

Di persembunyiannya, Deok Man dengan tepat mampu menebak langkah kubu Mi shil selanjutnya : membantai satu-persatu penduduk suku Gaya sampai ada yang mau buka mulut soal markas Bo Gya Hoe. Diam-diam, salah seorang penduduk berniat melaporkan apa yang terjadi. Apes baginya, ia dicegat oleh Bi Dam (Kim Nam-gil) dan Im Jong (Kang Ji-hoo).

Mata penduduk itu langsung membelalak kaget saat tahu Bi Dam bisa membaca bahasa isyarat yang biasa digunakan suku Gaya. Cuma ditemani oleh Bi Dam dan Al Cheon (Lee Seung-hyo), Deok Man nekat mendatangi desa Nobang dimana kelompok Bo Gya Hoe bermarkas.

Baru saja mengendap-ngendap masuk, mereka langsung dikepung. Pertempuran nyaris saja terjadi, namun tiba-tiba terdengar suara Yu Shin. Sudah tentu, kehadiran Yu Shin membuat Deok Man, Al Cheon, dan Bi Dam kaget. Melihat Yu Shin begitu mengenal rombongan penyusup yang datang, Wol Ya sempat keheranan.

Dengan suara lantang, Yu Shin menyebut bahwa Deok Man-lah orang yang bakal memimpin persekutuan antara Bo Gya Hwei dengan dirinya. Tidak cuma itu, Yu Shin juga mengatakan kalau dirinya telah menobatkan Deok Man sebagai majikannya.

Ucapan itu membuat Deok Man kaget, apalagi setelah Yu Shin dan disusul Wol Ya, Seol Ji, anggota Bo Gya Hoe, hingga Al Cheon dan Bi Dam berlutut dihadapannya sambil menyatakan kesetiaan mereka mengikuti sang putri hingga ajal.

Sinopsis The Great Queen Seon Deok Episode 27

Tayang Kamis, 17 Desember 2009 pukul 16:50 WIB di Indosiar

Saat punya kesempatan bicara berdua dengan Deokman, Yushin menyebut bakal melupakan perasaannya yang mendalam dan siap melayani gadis itu.

Yushin (Uhm Tae-woong) benar-benar serius, ia menyatakan siap mendampingi Deokman (Lee Yo-won) sebagai seorang bawahan dan tidak akan bersikap kurang ajar lagi atau memperlakukan Deokman bagai seorang pria memperlakukan wanita yang dicintainya.

Ucapan Yushin membuat hati Deokman seperti ditusuk-tusuk, ia langsung membalikkan badan untuk meninggalkan tempat itu. Tiba-tiba Yushin menarik tangan Deokman, dan langsung memeluknya sambil mencucurkan air mata. Deokman sadar bahwa itulah saat terakhir dirinya bisa berdekatan dengan Yushin sebagai seorang pribadi.

Mampu menduga kalau pasukan Mishil (Go Hyeon-jeong) bakal menekan rakyat Gaya setelah mereka kedapatan berbohong soal lokasi Bokyahwei, Deokman memerintahkan Yushin untuk mengorganisir pengungsian besar-besaran dari wilayah Samyang menuju Amyang, tanah yang telah diberikan Yushin sekaligus tempat tinggal rakyat Gaya yang baru.

Langkah berikut Deokman adalah meyakinkan Guru Wolcheon untuk membantunya, tugas tersebut tidaklah mudah. Saat hendak mulai menginterogasi, Deokman mendadak teringat dengan sosok Seolji (Jung Ho-geun), yang pernah dikenalnya saat baru datang ke Seorabol. Seolji juga tidak kalah kaget, ia tidak menyangka gadis remaja yang pernah mendatangkan hujan kini ada dihadapannya.

Meski menjadi tahanan, Guru Wolcheon bergeming dan malah membalikkan pertanyaan Deokman soal apa yang membedakan gadis itu dengan Mishil dan apa yang membuat pria tua itu tergerak hatinya. Sempat menuturkan apa yang menjadi idealismenya, Deokman menyodorkan buku almanak bangsa Wei dan meminta Guru Wolcheon menentukan sendiri apa yang harus dilakukan.

Rupanya, Deokman bisa menebak bahwa sebagai seorang ilmuwan, satu-satunya kelemahan Guru Wolcheon adalah rasa ingin tahu. Begitu pria itu mulai membaca almanak, maka hal berikut yang bakal dilakukannya adalah memperhitungkan kapan terjadi gerhana matahari.

Di kediamannya, Mishil marah besar saat diberitahu bangsa Gaya tidak ada di tempat pengasingan mereka. Yang membuatnya kaget, ternyata Deokman bisa tahu soal Guru Wolcheon yang ternyata berada tangan gadis itu.

Rencana Deokman mulai mendapat hambatan ketika Guru Wolcheon menolak membantunya. Saat bincang-bincang, baru ketahuan kalau alasan pria itu kerap membantu Mishil adalah karena ia berhutang budi dengan mendiang Sadaham.

Dipusingkan oleh penolakan Guru Wolcheon, Deokman dibuat gembira oleh kemunculan Jukbang (Lee Moon-shik), Godo (Ryu Dam), dan dua rekannya di klan Kembang Naga. Kejutan didapatkan oleh keempatnya ketika Yushin memberitahu kalau Deokman adalah seorang putri, sehingga otomatis mereka harus memberi hormat.

Keesokan harinya di istana, Raja Jinpyeong (Jo Min-ki) dihebohkan oleh banyaknya burung yang mati di halaman istana dan patahnya papan nama balai pertemuan. Rupanya, kehebohan tersebut adalah bagian dari rencana Deokman. Rencana berikutnya kembali melibatkan burung, dan kali ini yang banyak berperan adalah Bidam (Kim Nam-gil).

Rencana Deokman tersusun rapi, ia telah berpikir beberapa langkah kedepan dengan mengutus Yushin ke istana demi meminta bantuan Ratu Maya (Yoon Yoo-sun) seputar masalah prasasti berisi ramalan tentang anak kembar yang bakal membawa bencana.

Rakyat kembali dihebohkan ketika sumur Najung yang dianggap keramat memuntahkan darah, mereka meminta Mishil untuk melakukan upacara persembahan demi menghilangkan kemarahan dari langit. Waktu terus berjalan, Deokman masih terus berusaha meyakinkan Guru Wolcheon untuk membantunya.

Dengan berat hati, Raja Jinpyeong memohon Mishil untuk menuruti kehendak rakyat. Di saat pemegang segel kerajaan itu menggelar upacara persembahan, Yushin berhasil mendapat salinan prasasti peninggalan leluhur Shilla (berisi tentang ramalan bayi kembar) yang hanya tinggal separuh bagian.

Usaha Deokman menemui hasil, ia berhasil mendapatkan kepastian kapan gerhana matahari bakal terjadi. Namun ketika ditanya, ia mengaku hanya akan memberitahunya ke Bidam, yang tengah bersiap untuk menjalankan rencana terbaru sang putri.

Setelah sempat dihebohkan oleh banyaknya burung yang beterbangan di atas istana mendiang Putri Cheonmyeong, paginya seorang pria bertopeng berada didepan sumur Najung. Dengan kemampuannya, ia berhasil memunculkan bagian terakhir dari prasasti leluhur Shilla.

Kejadian tersebut sontak membuat rencana Mishil berantakan, para prajurit langsung diperintahkan untuk mengepung sumur Najung. Mata Mishil langsung membelalak kaget saat membaca apa isinya, yang meramalkan gerhana matahari bakal menandakan kemunculan putri kedua Raja Jinpyeong yang bakal membawa kemakmuran bagi Shilla.

Hanya dengan sekali lihat, Mishil dapat menebak bahwa prasasti tersebut adalah palsu. Ia langsung memerintahkan Bojong (Baek Do-bin) untuk meringkus pria bertopeng yang tidak lain adalah Bidam yang menyamar.

Di istana, raja Jinpyeong sangat kaget saat diberitahu bahwa bagian kedua dari prasasti peninggalan leluhur Shilla telah muncul. Sempat nyaris percaya, akhirnya Ratu Maya memberitahu bahwa kemungkinan besar prasasti tersebut adalah buatan Deokman.

Rupanya Bidam mengemban misi khusus dari Deokman, ia harus menyakinkan Mishil kalau gerhana matahari bakal terjadi meski sesungguhnya hal itu tidak akan menjadi kenyataan. Misi tersebut tentunya tidak mudah, karena taruhannya adalah nyawa Bidam sendiri. Akhirnya, Bidam dan Mishil saling berhadapan.

Tokoh Bi Dam Dimainkan Apik oleh Kim Nam Gil

Sepertinya peran Kim Nam Gil sebagai Bi Dam yang mulai muncul di episode 21 Queen Seon Deok (QSD) menyedot perhatian besar. Banyak pemirsa yang memuji penampilannya. Bi Dam adalah karakter penting di QSD, karena ia memimpin pemberontakan melawan Ratunya untuk menggantikannya naik tahta. Peran ini belum pernah diperankan sebelumnya di drama maupun film, jadi peran ini sangat penting untuk Kim Nam Gil.

Penulis skenario, Park Sang Yun merasa sangat confidence dengan Kim Nam Gil sebagai Bi Dam. Karakter Bi Dam akan berubah drastis menjadi karakter yang lebih gelap dalam QSD ini. Selain Kim Nam Gil sebagai ‘senjata rahasia’ drama ini, ada Yoo Seung Ho yang berperan sebagai Kim Chun Chu (putra Cheon Myeong).

Siapa Bi Dam?

Bi Dam, putra hasil hubungan Mi Shil dengan Raja Jinji. Sejak bayi, Mi Shil tak memedulikan Bi Dam karena bayi itu tak mampu membuat Raja Jinji mengangkatnya menjadi ratu. Saat tumbuh dewasa, Bi Dam pun berpihak pada Putri Deok Man. Tapi karena merasa Deok Man lebih memercayai Kim Yu Shin ketimbang dirinya, Bi Dam justru memimpin pemberontakan melawan Kim Yu Shin [1].

Sinopsis The Great Queen Seon Deok Episode 28

Tayang Jumat, 18 Desember 2009 pukul 16:57 WIB di Indosiar

Begitu melihat wajah Bidam yang penuh bekas luka, Mishil bergidik dan memintanya kembali memasang topeng.

Saat diinterogasi, Mishil (Go Hyeon-jeong) terkejut mendengar Bidam (Kim Nam-gil) mengatakan kalimat yang pernah diucapkannya. Semakin yakin kalau semua adalah tipuan, Mishil mengajukan pertanyaan yang sempat membuat Bidam terdiam : kapan pria itu bakal mati.

Langsung memutar otak, Bidam menjawab kalau waktu kematiannya akan diikuti oleh Raja Jinpyeong (Jo Min-ki) tiga hari kemudian. Ucapan tersebut langsung membuat Mishil mengurungkan niatnya, ia tidak berani gegabah. Kejadian itu membuatnya sadar, pria yang dihadapinya sangat cerdas dan tidak bisa dianggap remeh.

Di persembunyiannya, Deokman (Lee Yo-won) membuat Yushin (Uhm Tae-woong) dan Alcheon (Lee Seung-hyo) kaget saat mengatakan gerhana matahari tidak akan terjadi dan apa yang dilakukan Bidam adalah untuk membuat Mishil bingung.

Adu strategi antara Bidam dan Mishil dimulai. Di hadapan wanita itu dan Misaeng (Jung Woong-in), dengan sengaja Bidam mengucapkan kalimat-kalimat yang pernah dikatakan Mishil pada Yushin dan Deokman. Dengan cepat, Mishil bisa menebak siapa dalang dibalik kemunculan Bidam.

Tiba-tiba teringat dengan nasehat Deokman ketika merias wajahnya, Bidam dengan sengaja melepas bekas luka palsunya supaya Mishil bisa langsung melihat ekspresinya tanpa ditutup-tutupi. Sementara itu di daerah sumur Najung, Jukbang (Lee Moon-shik) dan Godo (Ryu Dam) sengaja membuat kehebohan di tengah rakyat supaya Mishil cepat mengambil keputusan soal ramalan gerhana matahari.

Berada dalam tekanan, Mishil mendapatkan surat dari Deokman yang memberitahu kalau Guru Wolcheon telah meramalkan bakal terjadi gerhana matahari. Dugaan Deokman sangat tepat, Mishil mulai kebingungan untuk menebak apakah sang putri benar-benar berkata jujur atau bohong belaka.

Tapi membohongi Mishil tidak semudah membalik telapak tangan, diam-diam wanita itu punya rencana sendiri untuk membongkar apa yang terjadi sebenarnya. Berdasarkan masukan dari Seolwon (Jun Noh-min), Mishil sengaja mengulur waktu, ia bahkan menolak kedatangan Yushin. Sebelum pergi, Yushin menitipkan sebuah surat.

Mishil terpengaruh, ia sempat meminta surat tersebut dibakar sebelum kemudian dibatalkan. Matanya langsung terbelalak saat tahu surat tersebut tak lain adalah bagian dari buku almanak Wei yang bisa digunakan untuk meramal gerhana matahari, keraguannya kembali muncul. Lagi-lagi, masukan dari Seolwon mampu menguatkan Mishil.

Saat tengah berjalan kembali ke kediamannya, Yushin dipanggil oleh Bojong (Baek Do-bin), yang mengajaknya menemui Mishil. Terus teringat akan nasehat Deokman untuk tidak mengalihkan tatapannya dari Mishil, Yushin berusaha sebisa mungkin untuk mengelabuhi wanita penuh akal itu namun gagal. Dengan tepat, Mishil bisa menebak kalau apa yang dilakukan Deokman adalah gertakan belaka.

Keyakinan Mishil makin menebal lewat salah satu bagian dari surat Guru Wolcheon, ia ingat betul sang pendeta sempat mengatakan kalau margin kegagalan ramalannya mencapai sekitar 28 jam. Hal terakhir yang dilakukannya adalah dengan memancing reaksi Bidam, yang begitu mendengar kalau gerhana matahari tidak akan terjadi langsung berusaha melarikan diri.

Sambil tersenyum penuh kemenangan, Mishil menemui Bidam yang telah diringkus sambil mengatakan kalau dirinya sudah bisa menebak semua strategi Deokman. Dengan percaya diri, Mishil menghadap Raja Jinpyeong dan Ratu Maya (Yoon Yoo-sun) dan mengatakan akan mengumumkan pada rakyat kalau gerhana matahari tidak bakal terjadi sambil menghukum mati Bidam yang telah menyebarkan berita palsu.

Diikat dan bakal dibakar hidup-hidup, hal yang tidak disangka-sangka terjadi : gerhana matahari. Efeknya sangat dahsyat, rakyat langsung ketakutan sementara Bidam hanya bisa melongo karena sadar dirinya telah dibohongi mentah-mentah oleh Deokman.

Meneruskan rencananya, Bidam berteriak dengan kencang tentang ramalan kedua dari prasasti yang muncul di sumur Najung. Begitu gerhana matahari mulai menghilang, dari sisi kanan tempat raja duduk, muncul satu sosok yang membuat semuanya terkejut.

Sinopsis The Great Queen Seon Deok Episode 29

Tayang Senin, 21 Desember 2009 pukul 17:00 WIB di Indosiar

Bertepatan dengan matahari yang kembali bersinar, Deokman muncul dari menara yang terletak tepat didepan singasana Raja Jinpyeong. Kemunculan Deokman (Lee Yo-won) yang disusul oleh Yushin (Uhm Tae-woong) dan Alcheon (Lee Seung-hyo) langsung membuat rakyat bersorak gembira, sementara wajah Mishil (Go Hyeon-jeong) berubah menjadi pucat-pasi.

Bisa dibayangkan bagaimana geramnya Mishil saat sadar dirinya telah ditipu Deokman, ia benar-benar terpukul. Apalagi dari tengah rakyat yang hadir, terdengar suara-suara yang menanyakan benar-tidaknya Raja Jinpyeong (Jo Min-ki) mempunyai anak kembar. Ucapan tersebut langsung disikapi Ratu Maya (Yoon Yoo-sun) dengan mendatangi Deokman di menara, kemudian menarik tangan sang putri untuk mengikutinya.

Di hadapan semua orang, dengan bercucuran air mata Ratu Maya akhirnya mengaku telah melahirkan bayi kembar. Aksi tersebut sukses membuat rakyat bersimpati dengan penderitaan sang ratu, apalagi ditambah pengakuan Raja Jinpyeong yang mengaku telah bersalah membuang Deokman.

Sambil mengangkat tangan sang putri, Raja Jinpyeong mengakui Deokman sebagai putri. Sorak-sorai langsung bergemuruh, termasuk Bidam (Kim Nam-gil) yang meski diikat tidak bisa menyembunyikan kegembiraannya, namun mata Deokman hanya tertuju ke satu arah : Mishil, yang balik menatapnya dengan senyum sinis.

Rasa haru dirasakan Ratu Maya saat tengah mendandani Deokman, namun ingatan gadis itu melayang ke saat terakhir dirinya berbincang-bincang dengan Putri Cheonmyeong dan tiba-tiba hatinya terasa hampa. Kepada sang ibu, Putri Deokman mengaku kalau dirinya kembali ke istana bukanlah untuk hidup bahagia atau hanya sekedar menjadi putri.

Dipanggil menghadap Raja Jinpyeong, Deokman dengan getir mengatakan bisa mengerti sikap sang ayah yang rela membuang putrinya hanya untuk menjaga tahta. Hanya terdiam, Raja Jinpyeong terkejut saat tahu niat Putri Deokman adalah untuk berhadapan langsung dengan Mishil.

Di kediaman Mishil, Sejong (Dok Go-young) dan putranya Hajong (Kim Jung-hyun) memaksa untuk menggerakkan pasukan demi mendongkel Deokman. Namun, langkah tersebut ditentang oleh Seolwon (Jun Noh-min). Dengan cermat, Mishil memerintahkan mereka untuk memastikan tidak ada satu pun bangsawan yang beralih ke kubu Putri Deokman.

Saat tengah rapat bersama Kim Seohyeon (Jung Sung-mo) dan Kim Yongchun (Do Yi-sung), Raja Jinpyeong mengira kalau kubu Mishil bakal menentang pengangkatan Deokman sebagai putri. Dugaannya meleset. Sejong yang muncul bersama Misaeng (Jung Woong-in) dan Hajong belakangan menyebut bahwa meski para bangsawan kecewa) karena Raja dan Ratu menutupi soal bayi kembar, mereka tetap mendukung pengangkatan Deokman.

Meskipun terlihat tenang, Mishil ternyata tetap seperti manusia biasa. Menjelang pelantikan Deokman sebagai putri, ia melampiaskan kekesalannya dengan memecahkan gelas-gelas yang biasa digunakan untuk bermain musik. Setelah itu, ia kembali merias diri untuk menyambut acara pelantikan.

Saat berjalan menuju lokasi, Mishil berpapasan dengan Deokman. Setelah sama-sama saling memberi hormat, perang urat syarat mulai terjadi, namun Mishil melihat satu hal : bibir dan tangan Deokman bergetar hebat. Mengira dirinya diatas angin dan langsung meraih tangan Deokman, teguran kalau dirinya telah lancang membuat Mishil kaget.

Di rapat pertama para hwarang yang dipimpinnya, Putri Deokman langsung membuat gebrakan : ia menunjuk Alcheon dan anak buahnya sebagai pengawal pribadi. Mishil tidak bisa menahan emosinya lagi, di kediamannya ia memerintahkan Seolwon untuk mengambil paksa Guru Wolcheon dengan segala cara. Bila gagal, Guru Wolcheon harus dibunuh.

Namun Putri Deokman tidak kalah gesit. Kepada Raja Jinpyeong, ia menyampaikan rencananya untuk membuka hal yang selama ini hanya diketahui kalangan tertentu kepada rakyat banyak. Tujuannya cuma satu : Putri Deokman tidak ingin rakyat dikelabuhi oleh hal-hal berbau takhyul yang sebenarnya bisa dijelaskan secara ilmiah.

Dengan cara licik, Bojong (Baek Do-bin) dan Seokpum (Hong Kyung-in) berhasil menculik Guru Wolcheon. Namun ditengah jalan keduanya bertemu Yushin dan pasukannya, sempat terjadi pertempuran seru dan Seokpum mengancam bakal membunuh Guru Wolcheon. Kemunculan Alcheon, yang mengaku diperintahkan Putri Deokman untuk membawa Guru Wolcheon, membuat Bojong dan Seokpum gigit jari.

Saat rapat dengan para pejabat istana, Putri Deokman menyampaikan perintahnya untuk tidak lagi menggunakan jabatan pendeta agung melainkan bakal membuka semua hal berbau ramalan untuk bisa diketahui rakyat banyak. Mata Mishil kembali membelalak saat Guru Wolcheon muncul dan membeberkan rencananya membuat menara observasi yang dinamakan chumsongdae.

Di ruang tertutup, Mishil bicara empat mata dengan Putri Deokman soal rencana sang putri. Dengan terperinci, Mishil menguraikan soal negara, tingkat jabatan, sampai kedudukan masing-masing kubu secara vertikal dan horisontal. Argumen yang disampaikan sangat masuk akal : Putri Deokman akan kehilangan kekuasaannya bila jabatan Gadis yang Dipilih oleh Langit dilepas begitu saja.

Mendengar penuturan Mishil yang telah berpengalaman dalam pemerintahan, Putri Deokman mulai ragu-ragu. Debat diantara keduanya tidak bisa dihindari, Putri Deokman mewakili hal-hal ideal yang harus dilakukan sementara Mishil menyebut fakta yang terjadi dalam kehidupan nyata.

Putri Deokman semakin percaya diri dengan apa yang ingin dilakukan, ia menyebut bakal menjadikan Shilla seperti harapannya. Ucapan sang putri sempat membuat Mishil sedikit tergetar, dan di saat yang sama Putri Deokman juga mulai ragu dengan kebenaran pendapatnya.

Go Hyeon-Jeong Raih Gelar Aktris Terbaik Berkat The Great Queen Seon Deok

Dikutip dari http://www.indosiar.com/gossip/83555/go-hyeon-jeong-raih-gelar-aktris-terbaik-berkat-the-great-queen-seon-deok [Edisi online: Rabu, 23 Desember 2009] — Berkat akting memukau sebagai Mishil yang licik dalam drama sejarah hit The Great Queen Seon-deok, aktris Go Hyeon-jeong berhasil meraih gelar Aktris Terbaik yang dipilih melalui sebuah polling. Sebagaimana dilangsir Korea Gallup pada Kamis pekan lalu, sekitar 34,8 persen dari 1.726 responden memilih Hyeon-jeong sebagai aktris terbaik tahun ini, mengalahkan sederet bintang top Korea lainnya.

Mengikuti Hyeon-jeong, aktor Lee Byung-hoon dan aktris Kim Tae-hee yang kedua-duanya adalah bintang drama IRIS, masing-masing meraih 20,5 persen dan 16,3 persen suara. Hasil polling tersebut memperlihatkan bahwa karier Go Hyeon-jeong kini kembali mengalami masa keemasan setelah lama beristirahat.

Ia mengundurkan diri dari dunia akting pada puncak kariernya pada tahun 1995 setelah menikahi Chung Yong-jin, bos Shinsegae Group. Hyeon-jeong kembali ke akting tahun 2005 setelah bercerai dari Yong-jin.

Peran Mishil yang dimainkan Hyeon-jeong adalah salah satu peran vital yang berhasil membuat drama The Great Queen Seon-deok begitu digemari sehingga menjadi drama yang paling banyak ditonton pada tahun ini, dengan perolehan rata-rata rating penonton 35,3. Setelah perannya usai dalam drama itu, ratingnya langsung merosot cukup lumayan dari 44,9 persen pada Oktober menjadi 34 persen saat ini.

Sinopsis The Great Queen Seon Deok Episode 30

Tayang Selasa, 22 Desember 2009 pukul 17:00 WIB di Indosiar

Dikutip dari http://www.indosiar.com/sinopsis/83548/the-great-queen-seon-deok-episode-30 [Edisi online: Selasa, 22 Desember 2009] — Membandingkan harapan dan kenyataan, Mishil menyebut kalau apa yang diimpikan Putri Deokman tidak akan pernah tercapai.

Setelah menyampaikan isi pikiran masing-masing, Putri Deokman (Lee Yo-won) dan Mishil (Go Hyeon-jeong) berpisah dengan pikiran masing-masing. Diam-diam, Mishil merasa kalau kedewasaan Putri Deokman bertambah dengan cepat dalam waktu yang singkat.

Niat Putri Deokman tidak hanya ditentang oleh kubu Mishil melainkan juga oleh orang-orang yang mendukungnya, Alcheon (Lee Seung-hyo) bahkan mendesaknya untuk mempertahankan status sebagai Gadis yang Dipilih Langit. Namun, Putri Deokman punya pikiran sendiri : ia menganggap status tersebut kelak hanya akan digunakan untuk kepentingan politik salah satu pihak.

Saat bicara berdua dengan Yushin (Uhm Tae-woong), Putri Deokman menceritakan pertemuan dengan Mishil yang telah membuka wawasan baru bagi dirinya. Sementara itu di kediamannya, Mishil terus menyalahkan keputusan Deokman didepan Seolwon (Jun Noh-min).

Namun, sang jendral bisa melihat ada hal lain yang membuat resah sang pemegang segel kerajaan. Rupanya meski bermusuhan, Mishil sangat iri dengan sejumlah kelebihan Deokman yang tidak dimilikinya mulai dari ideologi, usia yang masih muda, hingga darah songgeol (keturunan raja).

Untuk hal terakhir, Mishil mengucapkannya sambil menahan air mata yang nyaris jatuh. Bahkan, Mishil mengakui bahwa ucapan Putri Deokman membuatnya sangat terharu dan seandainya sang putri bukan putri kembar raja, bukan tidak mungkin ia sendiri yang bakal membesarkan gadis itu.

Di sejumlah penjuru kota, pengumuman soal pengangkatan Putri Deokman membuat rakyat bersuka cita dan secara tidak sengaja dilihat oleh Munno (Jung Ho-bin). Ingatannya langsung melayang ke 20 tahun silam, dan belakangan Munno sangat kaget saat Bidam (Kim Nam-gil) memberitahu kalau putri yang dimaksud adalah Deokman, nangdo yang pernah diselamatkan sang murid beberapa waktu sebelumnya.

Tanpa banyak pertentangan, rapat menteri kabinet alias hwabaek memutuskan setuju untuk pembangunan menara observasi alias chomseongdae. Rupanya Mishil punya rencana sendiri, ia ingin Putri Deokman menghadapi konsekuensi dari tindakannya yang dianggap gegabah.

Ketika malam tiba, Putri Deokman didatangi Bidam. Setelah berbincang-bincang soal perseteruan dengan Mishil, Bidam menyampaikan niatnya untuk bisa melayani sang putri. Sambil berlutut, Bidam menyatakan kesetiaannya. Gembira karena berhasil menjalankan niatnya, pemuda itu mendadak diserang oleh seseorang yang tidak dikenal.

Rupanya orang tersebut adalah Chilseok (Ahn Kil-kang), yang mendapat tugas khusus dari Seolwon. Kecurigaan sang jendral terbukti : Bidam memiliki hubungan dengan Munno karena sejumlah jurus khas yang tidak bisa dipungkiri lagi kehebatannya.

Putri Deokman benar-benar serius menjalankan tugasnya dan tak henti belajar, dengan cermat ia meminta Yushin untuk menempatkan Wolya (Joo Sang-wook) dan Seolji (Jung Ho-geun) di Seorabol sebagai bagian dari usaha pengintegrasian bangsa Gaya dengan kerajaan Shilla.

Di kediamannya, Mishil memutuskan kalau dirinya tidak lagi membutuhkan sosok Sohwa (Seo Young-hee), yang tengah terbaring tidak sadarkan diri di sebuah tempat terpencil. Perintah tersebut, yang tengah dibicarakan oleh Bakui (Jang Hee-woong) dan Deokchung (Suh Dong-won), secara tidak sengaja terdengar oleh Sohwa yang ingatannya telah pulih.

Berhasil melarikan diri, Sohwa melihat pengumuman tentang Putri Deokman yang bakal meresmikan pembangunan chomseongdae dan memutuskan untuk datang ke tempat itu. Di saat yang sama, para hwarang bawahan Mishil sudah mengetahui kalau mantan dayang istana tersebut sudah kabur, dan langsung melakukan pengejaran.

Dengan suara keras, Sohwa memanggil-manggil nama Deokman. Namun sebelum sempat terlihat, ia langsung kabur begitu melihat kemunculan Chilseok. Di tengah hutan, Sohwa diciduk oleh Bakui dan Deokchung yang berniat membunuh sang dayang.

Sebelum niat tersebut terjadi, seorang pria bertopi menghentikan aksi keduanya. Hanya dengan menggunakan ranting, pria tersebut mampu menaklukkan Bakui dan Deokchung. Sohwa sangat kaget saat tahu siapa yang menolongnya, namun belakangan terjadi pertempuran kedua antara pria tersebut dengan Chilseok, yang sangat kaget saat tahu pria tersebut adalah Munno.

Kesempatan itu digunakan Sohwa untuk melarikan diri. Di saat yang sama, Putri Deokman menghentikan rombongan karena samar-samar mendengar suara yang sangat dikenalnya. Tak berapa lama, suara tersebut kembali terdengar dari arah belakang.

Kredit Title dan Ucapan Terimakasih kepada:

Sinopsis The Great Queen Seon Deok Episode 17 18 19 20 21 22 23


Label Rating : Remaja (R), Bimbingan Orang Tua (BO)

Sinopsis The Great Queen Seon Deok Episode 17

Tayang Rabu, 2 Desember 2009 pukul 16:30 WIB di Indosiar

Putri Cheonmyeong terkejut ketika tangannya dipegang oleh seseorang yang tidak lain adalah Sohwa, ia tidak mengenali siapa wanita itu.

Di tempat lain, tangan Deokman (Lee Yo-won) juga dipegang oleh Mishil (Go Hyeon-jeong). Berbeda dengan Sohwa (Seo Young-hee) yang lembut, Mishil menebar ancaman bahwa bila Putri Cheonmyeong tetap nekat, maka ia akan kehilangan semua yang disayanginya.

Ancaman tidak hanya sampai disitu, Mishil juga meminta Deokman menyampaikan pesannya pada Yushin (Uhm Tae-woong) supaya tidak terus menentangnya bila tidak ingin nasib bangsa Gaya berakhir tragis. Keputusan Raja Jinpyeong (Jo Min-ki) akhirnya dijatuhkan, rakyat Gaya diminta pindah ke daerah Samyang yang terkenal tandus.

Mishil bergerak cepat, ia berusaha menarik Kim Seohyeon (Ju Sung-mo) untuk berpihak padanya dengan mengatur pernikahan antara kedua kubu. Tidak tanggung-tanggung, Mishil sendiri yang mendatangi Kim Seohyeon untuk meminta supaya Yushin dinikahkan dengan salah satu cucunya. Sudah tentu Yushin menolak, ia tetap ngotot ingin memerangi Mishil dengan caranya sendiri.

Memacu kudanya ke tempat Putri Cheonmyeong, yang baru saja mendengar cerita Deokman, Yushin meminta sang putri tidak menyerah begitu saja terhadap intimidasi Mishil. Menyaksikan dengan pilu saat rakyat Gaya diusir dari tempat tinggalnya untuk dipindahkan, Putri Cheonmyeong memutuskan untuk balik melawan Mishil dengan bantuan Yushin dan Deokman.

Saat hendak menyampaikan pesan pada Mishil kalau kubu Putri Cheonmyeong siap bertarung sampai akhir, Deokman baru sadar kalau lukisan Mishil memuat gambar pisau belati miliknya. Wajahnya semakin kaget saat mendengar cerita Mishil tentang karyanya yang ternyata merupakan sosok mendiang Raja Jinheung.

Kisah tentang Raja Jinheung dan belati legendarisnya diceritakan pada Putri Cheonmyeong, yang akhirnya menanyakan kebenarannya pada Ratu Maya (Yoon Yoo-sun). Oleh sang ibu, Putri Cheonmyeong dikisahkan tentang bagaimana belati Raja Jinheung menyelamatkannya belasan tahun silam saat Ratu Maya nyaris tewas oleh siasat Mishil.

Namun, Ratu Maya langsung gugup saat ditanya keberadaan belati tersebut dan akhirnya memutuskan berbohong dengan menyebut kalau belati Raja Jinheung telah hilang. Untuk memastikan, Putri Cheonmyeong menanyakan hal yang sama ke Raja Jinpyeong, yang tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya, yang menjawab kalau belati telah diberikan pada Munno (Jung Ho-bin).

Cerita dari Putri Cheonmyeong tentang belati Raja Jinheung membuat Deokman semakin bingung, ia memutuskan untuk mengambil tindakan sendiri demi memperjelas semuanya. Penyelidikan ternyata tidak cuma dilakukan oleh Putri Cheonmyeong, melainkan juga oleh penasehat raja Eulje (Shin Goo).

Saat tengah membuka-buka arsip istana, Putri Cheonmyeong terkejut saat membaca ramalan yang menyebut bahwa bila seorang Raja Shilla mempunyai anak kembar, maka ia tidak akan pernah punya keturunan laki-laki. Putri Cheonmyeong teringat dengan tanda lahir Deokman, dan matanya langsung membelalak.

Sinopsis The Great Queen Seon Deok Episode 18

Tayang Kamis, 3 Desember 2009 pukul 16:28 WIB di Indosiar

Begitu teringat dengan tanda dibelakang telinga Deokman, Putri Cheonmyeong langsung mulai menduga kalau sang nangdo punya hubungan dengan dirinya.

Niat Deokman (Lee Yo-won) untuk mengetahui asal-usulnya dengan menyelundupkan dokumen kerajaan membuatnya jadi incaran, penasehat Eulje (Shin Goo) mengumpulkan para hwarang terbaik untuk sebuah misi : meringkus Deokman.

Padahal, disaat yang sama Deokman telah berada ditengah para hwarang yang mengenakan masker tersebut. Saat tengah merenung karena baik Mishil maupun Eulje, yang diduga sebagai suruhan Raja Jinpyeong (Jo Min-ki), menginginkan kematiannya, Deokman ditegur salah seorang hwarang karena gerak-geriknya yang mencurigakan.

Deokman langsung lari dan bersembunyi di sebuah semak, namun tempat persemunyiannya diketahui oleh salah seorang hwarang bertopeng. Sempat terlibat pertempuran, identitas Deokman terbongkar ketika topengnya disibak. Siapa sangka, hwarang bertopeng yang meringkusnya adalah Alcheon (Lee Seung-hyo).

Keributan diantara keduanya memancing kehadiran hwarang lain, Deokman langsung meminta Alcheon melepaskannya sambil mengingatkan sang hwarang kalau dirinya berhutang budi. Dengan wajah kesal, Alcheon terpaksa melepas Deokman dengan berbohong pada hwarang lain.

Di istana, Putri Cheonmyeong (Park Ye-jin) akhirnya mengetahui dari Ratu Maya (Yoon Yoo-sun) kalau dirinya memiliki saudara kembar. Mendengar begitu pilunya kisah sang ibu, Putri Cheonmyeong langsung memeluk Ratu Maya dan keduanya menangis tersedu-sedu. Namun, keraguan sang putri kembali merebak saat mendengar saudara kembarnya bukanlah laki-laki melainkan perempuan.

Saat tengah termenung, tiba-tiba Mishil (Go Hyeon-jeong) datang berkunjung untuk menyerahkan lukisan Raja Jinheung. Kembali terkejut saat melihat gambar belati yang sebelumnya pernah dilihat sebagai milik Deokman, Putri Cheonmyeong kembali curiga. Keesokan harinya saat mengunjungi Yushin (Uhm Tae-woong), sang putri secara kebetulan bertemu Deokman. Saat ditanya apakah dirinya menyembunyikan sesuatu, Deokman menggeleng.

Hilangnya sebuah barang di balai pertemuan istana membuat kehebohan tersendiri, bahkan kubu Mishil mulai sadar kalau ada sesuatu yang terjadi. Begitu Yushin selesai latihan, ia didatangi Alcheon yang memberitahu soal Deokman yang diduga telah membuat masalah besar.

Kecurigaan terhadap para hwarang membuat pihak penasehat Eulje, yang dipimpin oleh Hojae (Go Yoon-hoo), langsung menggeledah tenda. Tidak cuma itu, para hwarang juga diminta untuk menanggalkan pakaiannya supaya bisa diperiksa. Bisa dibayangkan, bagaimana pucatnya Deokman mendengar perintah tersebut.

Di hadapan Eulje, Deokman dengan ragu-ragu menanggalkan pakaiannya. Namun disaat genting, tiba-tiba muncul utusan yang menyebut kalau Raja Jinpyeong telah mendengar semuanya sehingga pemeriksaan ditunda. Di ruang pertemuan, wajah Raja Jinpyeong langsung pucat begitu langkahnya dicegat sosok yang sudah tidak asing lagi memanggil namanya : Sohwa (Seo Young-hee).

Munculnya Seori (Song Ok-sook) membuat Raja Jinpyeong tidak bisa berbuat apa-apa selain pura-pura tidak mengenal Sohwa. Namun mata Eulje, yang memutuskan untuk menyusul raja, tidak bisa dibohongi. Dalam waktu singkat, berita soal Sohwa langsung terdengar oleh Ratu Maya dan Putri Cheonmyeong.

Curiga terhadap Sohwa yang meski seperti orang kehilangan ingatan namun begitu fasih dengan jalan-jalan di kuil kerajaan, Seori melaporkan semuanya pada Mishil. Curiga kalau Sohwa ada hubungannya dengan istana di masa lalu, Mishil meminta Misaeng (Jung Woong-in), yang dikenal memiliki ingatan tajam dan hapal dengan wajah para dayang, untuk mengecek.

Saat kembali ke barak, para hwarang klan Kembang Naga dikejutkan oleh penemuan benda yang seharusnya tidak ada disana : pembalut wanita. Dari semuanya, hanya Jukbang (Lee Moon-shik) yang sadar kalau dirinya selama ini dikelabuhi : Deokman ternyata adalah seorang wanita.

Begitu dikonfrontir, Deokman sempat berusaha mengelak namun akhirnya memohon-mohon supaya Jukbang tidak menceritakan semuanya pada Yushin. Dengan wajah serius, Jukbang menyebut kalau Yushin sudah tahu semuanya.

Di tempat lain, Putri Cheonmyeong menceritakan tentang pertemuannya dengan Deokman pada Yushin dan mengenai saudara kembarnya. Wajah Yushin langsung pucat, ia langsung memberitahu kalau Deokman sesungguhnya adalah wanita. Wajah Putri Cheonmyeong langsung pucat mendengarnya.

Sinopsis The Great Queen Seon Deok Episode 19

Tayang Jumat, 4 Desember 2009 pukul 16:00 WIB di Indosiar

Dari penuturan Jukbang, Deokman akhirnya sadar kalau Yushin sudah mengetahui identitasnya sejak lama.

Ingatan Deokman (Lee Yo-won) melayang ke masa lalu saat dirinya tengah mandi dan saat keluar, secara tidak sengaja mendapati Yushin (Uhm Tae-woong) berada didepan pintu. Oleh Jukbang (Lee Moon-shik), Deokman diberitahu kalau selama ini Yushin ternyata berusaha melindunginya.

Di tempat lain, mata Putri Cheonmyeong (Park Ye-jin) langsung terbelalak saat tahu kalau Deokman ternyata adalah seorang perempuan. Dengan wajah tegang, Putri Cheonmyeong meminta Yushin untuk membantunya merahasiakan identitas Deokman karena kalau sampai terbongkar, jiwa sang nangdo berada dalam bahaya.

Saat berpapasan dengan Deokman, Yushin berusaha menghindar namun sang anak buah langsung menariknya untuk bicara empat mata. Sikap tidak perduli Yushin membuat Deokman marah, namun ucapan pimpinan klan Kembang Naga itu membuatnya terdiam.

Sejak tahu kalau Deokman adalah perempuan, sikap Jukbang terhadap sang yunior langsung berubah. Perhatiannya yang berlebihan keruan saja membuat Deokman kesal. Baru saja selesai latihan, tiba-tiba Deokman dipanggil Putri Cheonmyeong, yang memintanya pergi ke sebuah wilayah bernama Joongak dan tinggal disana sambil menunggu perintah selanjutnya.

Dimintai untuk mengkonfirmasi identitas seseorang, dengan jumawa Misaeng menyebut bahwa ingatannya yang sangat tajam-lah yang membuatnya bisa mempunyai 100 anak lebih dari perempuan yang berbeda. Begitu diajak ke tempat Chilseok (Ahn Kil-kang), mata Misaeng terbelalak ngeri saat melihat siapa wanita yang ada disana : Sohwa (Seo Young-hee).

Di kediamannya, Mishil yang mampu memahami dalamnya perasaan Chilseok terhadap Sohwa memerintahkan supaya keduanya dipisahkan. Caranya sangat jitu, ia meminta Bojong (Baek Do-bin) putranya untuk menyergap rombongan Chilseok dan Sohwa.

Strategi tersebut nyaris saja berhasil, Bojong berhasil memancing Chilseok yang penglihatannya terganggu sementara anak buahnya langsung melarikan Sohwa yang berada didalam tandu. Siapa sangka, rombongan tersebut disergap oleh pasukan bertopeng suruhan penasehat Eulje (Shin Goo).

Begitu selesai latihan, Deokman langsung didatangi Yushin. Dengan cepat, Deokman mampu menebak kalau Yushin juga merahasiakan sesuatu darinya. Ucapan Yushin yang seolah meremehkan masa lalu Deokman membuat gadis itu marah. Sambil menepuk dadanya dengan keras, Deokman menyebut bahwa ia tidak akan pernah lupa dengan pengorbanan ibunya.

Berjalan keluar dengan marah, Deokman menatap kosong kedepan. Tak jauh dari sana, Sohwa yang disamarkan dengan pakaian hwarang melihat sosok sang putri dan langsung mengenalinya, ia berusaha menarik perhatian Deokman namun sayangnya Sohwa tidak bisa bersuara.

Begitu tahu kalau Sohwa diculik dan tidak bisa ditemukan, Chilseok ngotot untuk mencari keberadaan sang mantan dayang istana. Namun dengan cepat, Mishil menghunus pedang sambil menyebut bahwa untuk bisa pergi, Chilseok harus lebih dulu membunuhnya. Ucapan Mishil yang begitu tegas namun penuh pengertian membuat Chilseok meneteskan air mata, dan akhirnya memutuskan untuk menurut.

Setelah diungsikan ketempat yang aman, Sohwa mendapat kunjungan bergilir dari Raja Jinpyeong dan Ratu Maya (Yoon Yoo-sun). Bertangis-tangisan saking terharunya, Ratu Maya sangat terkejut saat Sohwa mengisyaratkan kalau putri bungsunya ternyata sudah ada di Seorabol.

Memutuskan untuk menuruti permintaan Putri Cheongmyeong, Deokman mendatangi kediaman sang putri. Sayangnya saat hendak memberi penjelasan, ucapannya dipotong oleh Putri Cheonmyeong dengan marah. Obrolan keduanya terhenti oleh kemunculan Ratu Maya.

Rupanya begitu tahu kalau putri bungsunya ada di Seorabol, Ratu Maya langsung berusaha mengkonfirmasi berita itu ke Putri Cheonmyeong. Dengan wajah sedih, sang putri mengangguk sambil meminta ibunya bersabar. Sudah tentu, permintaan itu tidak dituruti.

Sebelum pergi, Deokman menitipkan belati kecil Raja Jinheung pada seorang dayang untuk diberikan pada Ratu Maya. Begitu melihat benda yang sudah sangat dikenalnya, Ratu Maya sangat terkejut. Ia akhirnya bisa bertemu dengan Deokman, yang berjanji bakal membeberkan siapa pemilik asli belati itu saat keduanya kembali bertemu di balai pertemuan pada malam hari.

Malamnya, istana dibuat gempar ketika rombongan Ratu Maya dengan tandunya keluar dari kediaman. Mishil yang curiga langsung meminta Bojong untuk menyelidiki. Di saat yang sama, Deokman juga menghilang dari barak klan Kembang Naga.

Rupanya, rombongan dan tandu digunakan Ratu Maya untuk mengecoh orang-orang yang mengikutinya. Dengan samaran, ia berhasil sampai ke balai pertemuan untuk bertemu Deokman. Belum sempat buka mulut, Deokman terbelalak melihat siapa yang muncul belakangan.

Sinopsis The Great Queen Seon Deok Episode 20

Tayang Selasa, 8 Desember 2009 pukul 16:30 WIB di Indosiar

Ratu Maya yang telah berhasil mengecoh orang-orang yang berusaha mengikutinya akhirnya bisa menemui Deok Man. Sambil cemas melihat sekelilingnya, Ratu yang diliputi rasa rindu menanyakan pada Deok Man dimana gadis pembawa belati milik Raja Jinheung. Belum sempat buka mulut, Deok Man terbelalak melihat siapa yang muncul belakangan. Ternyata, Putri Cheon Myeong dan Kim Yu Shin. Sementara itu, Kim Yu Shin berjaga-jaga di luar membiarkan ratu dan putri kembarnya bertemu. Karena ingin segera mengetahui identitas sebenarnya, meski sudah dicegah Deok Man tetap nekat membeberkan siapa pemilik belati Raja Jinheung. Sebelum Deok Man sempat bicara, Putri Cheon Myeong (Park Ye-jin) dengan air mata berlinang mendahului dengan memberitahu Ratu Maya siapa sang Nang Do sebenarnya.

Cheon Myeong: “Ini ibu … Ibu ,,, Deok Man itu… seorang wanita …”

Ratu Maya tampak bingung bagaimana mungkin Deok Man itu seorang wanita sedang yang ia lihat dihadapannya memakai seragam Nang Do.

Cheon Myeong : “Seorang wanita… wanita… anak perempuanmu… dia adalah anak perempuanmu, adik kembarku… adik kembarku yang sudah dibuang dan ditinggalkan saat lahir… adik kembarku… adik kembarku…”

Begitu mendengar kalau Deok Man adalah saudari kembar Putri Cheon Myeong, mata Ratu Maya (Yoon Yoo-sun) langsung membelalak. Ratu Maya menyadari bahwa Cheon Myeong paham betul identitas Deok Man. Deok Man kaget. Dengan gugup, Deok Man terus meminta maaf karena semula menganggap semuanya adalah lelucon Putri Cheon Myeong untuk menghukumnya karena ia tidak mengikuti perintah dan menipu sang putri. Ratu mengkonfirmasi kebenaran informasi bahwa Deok Man adalah wanita dan adik Cheon Myeong. Putri mengangguk dan membenarkan. Cheon Myeong berkata bahwa belati Raja Jinheung dan orang yang menyampaikan petisi, orang yang tumbuh dan berpikir bahwa dayang istana So Hwa adalah ibu kandungnya adalah benar Deok Man. Sekarang Deok Man yang terpana.

Ratu Maya langsung menggenggam tangan Deok Man dengan penuh kerinduan. Deok Man sekarang berada dalam tahap penyangkalan. Deok Man berkata akan berangkat ke kuil Jung Ahn dan pergi meninggalkan mereka. Ratu memanggilnya dan bertanya apa namanya Deok Man, ia ingat ia belum memberi nama pada Deok Man sebelum Deok Man diambil dari tangannya. Deok Man merasa Ratu salah orang. Deok Man langsung menepis tangan Ratu Maya yang memegangnya, dan buru-buru pergi dari tempat itu. Deok Man bertemu Yu Shin yang berdiri di luar namun ia lari melewati Yu Shin. Dibelakangnya, Ratu Maya menangis meraung-raung sambil ditenangkan Putri Cheon Myeong. Sementara itu, Yu Shin mengejar Deok Man. Deok Man masih menyangkal semua yang terjadi. Deok Man merasa ini semua hanya taktik Cheon Myeong karena Cheon Myeong tahu tujuannya ke Gyerim untuk mencari Moon Noh dan mengapa ia tetap menyamar menjadi lelaki dan menjadi Nang Do. Cheon Myeong pasti mempermainkannya. Kim Yu Shin minta maaf kepada Deok Man. Deok Man heran. Yu Shin mengerti perasaan Deok Man tapi ia tidak dapat menolongnya. Yu Shin berkata semua memang tampak seperti omong kosong tapi Deok Man memang benar adik kembar Putri Cheon Myeong. Deok Man hanya dapat duduk dan mulai mencerna semuanya.

Setelah keadaan mulai tenang, Putri Cheon Myeong menemui Deok Man dan menceritakan tentang ramalan kuno kerajaan Shilla dan rencana Mi Shil menggunakan ramalan tersebut untuk menguasai tahta. Penuturan tersebut membuat Deok Man semakin sedih, ia memutuskan untuk pergi sejauh mungkin namun Yu Shin mencegahnya.

Melihat Deok Man histeris, Yu Shin buru-buru memeluk sambil menghiburnya. Setelah Deok Man sedikit tenang, Yu Shin mengajaknya ke tebing dimana ia biasa menenangkan diri. Begitu Yu Shin pergi menjauh, Deok Man melampiaskan beban dihatinya dengan menangis sekencang-kencangnya.

Di istana, Putri Cheon Myeong dan Ratu Maya menyembunyikan apa yang terjadi dari Raja Jinpyeong (Jo Min-ki). Pelan-pelan keduanya mulai bisa mereka-reka apa yang terjadi mulai dari munculnya So Hwa (Seo Young-hee) di istana hingga keterlibatan Chil Sook (Ahn Kil-kang).

Satu-persatu tabir rahasia mulai terungkap, Seol Won (Jun Noh-min) mengutus Seok Bum (Hong Kyung-in) untuk menyelidiki siapa yang berhasil menyusup masuk ke balai pertemuan istana. Begitu ketahuan kalau pelakunya adalah Joo Bang (Lee Moon-shik), anggota klan Kembang Naga itu langsung diciduk dan diinterogasi sambil disiksa.

Tidak tahan disiksa, Joo Bang akhirnya menyebut nama Deok Man. Sebelum dirinya sempat bicara lebih banyak, muncul pasukan pimpinan penasehat Eul Jae (Shin Goo) dan Kim Seo Hyeon (Ju Sung-mo) yang langsung mengambil-alih penyelidikan.

Di puncak tebing air terjun, Putri Cheon Myeong berusaha menghibur Deok Man. Namun, Sang Nang Do memutuskan untuk kembali ke padang pasir karena kehadirannya hanya membuat masalah di Seorabol. Ucapan itu keruan saja membuat Putri Cheon Myeong terpukul, karena ia menganggap Deok Man adalah salah satu pilar kekuatannya.

Sikap Deok Man yang sembrono membuat Yu Shin marah, ia meminta Deok Man untuk bertahan dan menghadapi jalan hidupnya yang baru dengan gagah berani sesuai dengan semangat klan Kembang Naga. Dengan wajah serius Yu Shin menyebut bahwa selama Deok Man tidak pergi, pria itu berjanji bakal membantu Deok Man sekuat tenaga.

Fakta kalau Deok Man berada dibelakang kasus penyusupan di balai pertemuan istana membuat Putri Cheon Myeong dipanggil ke hadapan Raja Jinpyeong dan penasehat Eul Jae. Meski wajahnya pucat, Putri Cheon Myeong mengaku tidak tahu apa-apa.

Saat berada di kediamannya, Putri Cheon Myeong dikejutkan oleh kemunculan mendadak Deok Man. Rupanya, Deok Man memutuskan untuk menuruti permintaan Putri Cheon Myeong untuk tinggal sementara di Gunung Joongak sambil menunggu keadaan tenang.

Eul Jae memerintahkan Al Cheon (Lee Seun-hyo) dan Im Jong (Kang Ji-hoo) untuk meringkus Deok Man. Baru saja keduanya bergerak, tiba-tiba mereka melihat Yu Shin menarik Deokman ke atas kuda. Saat dicegat, Yu Shin malah memacu kudanya sekencang mungkin.

Bisa ditebak, akhirnya terjadi kejar-kejaran antara Yu Shin-Deok Man dan Al Cheon-Im Jong. Di saat yang sama, Chil Sook keluar dari kuil dan membuka perban matanya. Penglihatannya mulai jelas. Tiba-tiba Kim Yu Shin dan Deok Man melintas. Chil Sook sangat terkejut begitu melihat wajah Deok Man yang tidak asing lagi baginya.

Sinopsis The Great Queen Seon Deok Episode 21

Tayang Rabu, 9 Desember 2009 pukul 16:30 WIB di Indosiar

Sambil menajamkan pandangannya, Chil Sook menggumam tidak percaya kalau Deok Man yang dicarinya selama ini ternyata ada di Seorabol.

Memacu kuda sekencang-kencangnya, Yu Shin (Uhm Tae-woong) berhasil lolos dari kejaran Al Cheon (Lee Seung-hyo) dan Im Jong (Kang Ji-hoo). Pulang dengan tangan hampa, Al Cheon memberanikan diri bertanya pada Eul Jae (Shin Goo), namun sang penasehat raja hanya bungkam.

Sadar kalau apa yang dilihatnya sangat penting, Chil Sook (Ahn Kil-kang) langsung melaporkan ke Mi Shil (Go Hyeon-jeong) kalau putri bungsu Raja Jinpyeong (Jo Min-ki) ada di Seorabol.

Chil Sook : “Hal pertama yang kulihat saat penglihatanku pulih adalah putri kembar yang satu lagi. Dia masih hidup dan berada di istana!”

Mi Saeng mengira Chil Sook berhalisinasi. Namun, Chil Sook tetep keukeuh putri kembar yang satu lagi sudah kembali ke istana. Mi Shil seperti disambar petir. Mi Shil ketakutan.

Mi Shil masih mencoba mencerna informasi yang didengarnya. Chil Sook berkata ia melihatnya mengenakan seragam Nang Do, dia mulanya mengira anak itu telah mati ditelan badai pasir, tapi ternyata ia masih hidup. Chil Sook menegaskan dia dapat mengenalinya dan dia yakin itu benar Deok Man.

Mi Shil seperti kena ‘bom atom’ saat mendengar nama Deok Man disebut. Mi Shil langsung meminta semua yang hadir : Se Jong, Seol Won (Jun Noh-min), Mi Saeng (Jung Woong-in), dan Ha Jong (Kim Jung-hyun) untuk tidak bicara sepatah katapun karena dirinya perlu konsentrasi untuk memikirkan langkah selanjutnya.

Chil Sook jadi heran dengan ekspresi semua orang.

Gagal mendapat penjelasan yang memuaskan, Eul Jae (Shin Goo) berusaha mencari tahu tentang apa yang terjadi dengan menginterogasi Joo Bang (Lee Moon-shik) dan Go Do (Ryu Dam). Begitu melihat So Hwa, yang meski masih belum bisa bicara namun ekspresinya sangat kentara begitu nama Deok Man disebut, Eul Jae langsung bisa menebak apa yang terjadi.

Berhasil menghentikan kurir yang dikirim oleh Yu Shin, Eul Jae harus berhadapan dengan Putri Cheon Myeong (Park Ye-jin), yang marah besar saat tahu sang penasehat berusaha mencelakai Deok Man.

Dengan wajah serius, Eul Jae menyebut bahwa apa yang dilakukannya adalah demi mempertahankan kekuasaan Raja Jinpyeong. Siapa sangka, ucapannya soal identitas Deok Man yang sebenarnya terdengar oleh sang raja, yang kebetulan datang ke kediaman Putri Cheon Myeong. Bisa dibayangkan, bagaimana marah dan kagetnya Raja Jinpyeong.

Begitu mendengar kalau So Hwa ditahan di bagian interogasi yang dikuasai Eul Jae, Mi Shil memerintahkan Seol Won untuk mengambil paksa sang dayang istana dengan cara apapun. Tidak cuma itu, ia juga meminta seluruh jajarannya untuk mengawasi tindak-tanduk pihak yang dekat dengan Deok Man untuk mengetahui keberadaan Sang Nang Do.

Sadar kalau pihak yang mengincar Deok Man adalah suruhan Eul Jae, yang bertindak tanpa persetujuan Raja Jinpyeong, Yu Shin mengutus anak buahnya Dae Pung (Park Young-seo) untuk meminta bantuan Kim Seo Hyeon (Ju Sung-mo).

Siapa sangka, tak lama kemudian Kim Seo Hyeon dikunjungi oleh Eul Jae yang meminta dua hal pada sang ipar raja : membawa pulang kepala Deok Man. Sebagai imbalannya, Yu Shin bakal dinikahkan dengan Putri Cheon Myeong yang memang memerlukan pendamping.

Perseteruan antara kubu Seol Won dan Eul Jae tidak bisa dihindari ketika balai interogasi diserbu dan So Hwa bersama Joo Bang-Go Do diambil paksa. Dengan santai, Seol Won menyebut So Hwa sebagai wanita yang dicurigai sebagai mata-mata kerajaan Baekje sehingga Eul Jae tidak bisa berbuat apa-apa.

Dalam pelarian, Yu Shin dan Deok Man (Lee Yo-won) yang tengah bersembunyi di sebuah gua bertemu dengan seorang pria eksentrik. Pria tersebut, yang bernama Bi Dam (Kim Nam-gil), ternyata mendapat tugas dari gurunya untuk mencari tanaman jahe liar untuk mengobati penduduk dari wabah yang tengah melanda.

Perkenalan Yu Shin dan Bi Dam dimulai ketika Sang Hwarang yang kelaparan meminta sepotong ayam bagi dirinya dan Deok Man. Sebagai imbalannya, Bi Dam meminta ikat kepala Yu Shin yang berfungsi sebagai tanda pengenal klan Kembang Naga.

Setelah membawa Deok Man ke tempat yang aman, Yu Shin menemui ayahnya Kim Seo Hyeon. Siapa sangka, sang ayah tengah bersiap untuk menuruti perintah Eul Jae untuk membunuh Deok Man. Sadar kalau nyawa Deok Man dalam bahaya, Yu Shin langsung pergi.

Dugaannya benar, gubuk Deok Man telah dikepung oleh segerombolan pria berpakaian sipil. Siapa sangka saat keadaan semakin genting, muncul Bi Dam yang ternyata lebih dari sekedar pria biasa. Seseorang maju duel dengan Bi Dam dan berakhir menjadi daging cincang di tangan Bi Dam. Kemudian Bi Dam menyerang pasukan Kim Seo Hyeon dengan ilmu pedang yang cepat dan keren. Bi Dam menyerang tanpa ampun. Bi Dam berkata ia akan membunuh mereka semua. Bi Dam membuat Deok Man terpana.

Sinopsis The Great Queen Seon Deok Episode 22

Tayang Kamis, 10 Desember 2009 pukul 16:30 WIB di Indosiar

Meski dikeroyok banyak orang, para prajurit yang berpakaian sipil ternyata bukan tandingan Bi Dam.

Dengan wajah penuh darah, Bi Dam (Kim Nam-gil) tersenyum sinis melihat musuhnya lari terbirit-birit. Sikapnya yang tidak bisa ditebak membuat Yu Shin (Uhm Tae-woong) yang baru tiba salah sangka, keduanya nyaris terlibat pertarungan kalau saja Deok Man (Lee Yo-won) tidak melerai.

Setelah menyerahkan baju tempurnya, sebagai ganti ikat kepala yang digunakan untuk membayar makanan, Yu Shin bergegas mengajak Deok Man meninggalkan gubuk persembunyian. Namun, keduanya tidak sadar kalau mata-mata Kim Seo Hyeon (Ju Sung-mo) terus menguntit dan mengabarkan perkembangan yang terjadi pada sang majikan.

Begitu sampai di desa, Yu Shin melihat sekelompok hwarang tengah sibuk dan sadar bahwa Mi Shil juga tengah mengincar Deok Man. Karena hampir semua jalan keluar diblokir, satu-satunya kesempatan bagi mereka adalah pergi ke desa Yangji yang tengah dilanda wabah misterius.

Kedatangan Yu Shin dan Deok Man di desa Yangji bertepatan dengan saat Bi Dam (Kim Nam-gil) tengah dimarahi oleh gurunya, yang rupanya sudah hapal dengan watak muridnya yang tidak pernah melakukan segala sesuatu tanpa pamrih.

Penuturan Deok Man dan Yu Shin yang membenarkan penjelasan Bi Dam membuat pria setengah baya yang ternyata adalah Moon Noh (Jung Ho-bin) tersebut akhirnya mengalah, namun ia tetap memerintahkan sang murid untuk mencari bahan obat-obatan sebelum semuanya terlambat. Tidak cuma itu, Moon Moh juga meminta Yu Shin dan Deok Man untuk meninggalkan desa Yangji.

Saat tengah mencari akar jahe liar, sosok Bi Dam terlihat oleh Seol Won (Jun Noh-min). Dengan iming-iming memberi apa yang dicari Bi Dam, Seol Won mengajukan satu syarat : pria berpenampilan seperti gelandangan itu harus menyerahkan Deok Man sebagai imbalannya.

Memutuskan untuk tinggal membantu Moon Noh, tanpa tahu siapa pria itu sebenarnya, Yu Shin dijebak oleh Bi Dam hingga terkurung di kandang yang sempit. Tidak memperdulikan teriakan penuh amarah dari pria itu, Bi Dam mengikat Deok Man yang rencananya bakal diserahkan ke Seol Won.

Dengan wajah dingin, Bi Bam menyebut bahwa Deok Man bakal menyelamatkan ratusan orang yang tengah terjangkit penyakit. Ucapan itu membuat mental Deok Man semakin ambruk, ia sadar bahwa bila dirinya sudah tidak ada, keadaan akan lebih baik bagi semua orang.

Di Seorabol, kabar ditangkapnya Deok Man membuat kubu Mi Shil begitu gembira. Saat tinggal sendiri, Mi Shil (Go Hyeon-jeong) diingatkan oleh Pendeta Seo Ri (Song Ok-sook) tentang ramalan bintang biduk. Dengan senyum sinis, Mi Shil menyebut tidak percaya akan segala bentuk ramalan.

Pergolakan politik istana makin panas setelah Se Jong menggelar rapat kabinet darurat. Seperti yang bisa ditebak, rapat tersebut membahas soal putri kembar Raja Jinpyeong (Jo Min-ki). Tidak sekedar asal bicara, Se Jong menghadirkan bukti hidup berupa Chil Sook (Ahn Kil-kang). Setelah pengambilan suara yang dimenangi kubu Se Jong, Chil Sook akhirnya menuturkan semua yang dialaminya selama 20 tahun.

Setelah hari berganti, Bi Dam menggiring Deok Man ke tempat dimana ia berjanji bakal bertemu Seol Won. Di perjalanan, Bi Dam baru sadar kalau sang tawanan selama diikat menggenggam belati Raja Jinheung. Sudah tentu ia heran, pasalnya dengan belati tersebut Deokman bisa meloloskan diri namun hal itu tidak dilakukan.

Rupanya Deok Man punya rencana lain, ia berhasil meyakinkan Bi Dam untuk membiarkan dirinya memegang belati Raja Jinheung. Sesuai perjanjian, Bi Dam akhirnya menyerahkan Deok Man ke tangan Seol Won dengan imbalan beberapa peti akar jahe liar. Namun sepanjang perjalanan pulang, pikiran Bi Dam melayang pada sikap aneh Deok Man yang seolah pasrah.

Begitu menceritakan apa yang terjadi pada sang guru, Moon Noh langsung marah besar dan membentak Bi Dam sambil menyebut kalau nyawa manusia terlalu berharga untuk ditukar dengan apapun termasuk nyawa manusia lain. Ketika sibuk membantah, Bi Dam tiba-tiba teringat sesuatu dan langsung berpamitan untuk mengejar rombongan yang menahan Deok Man.

Usaha Deok Man untuk bunuh diri dengan menggunakan pisau Raja Jinheung gagal, namun tiba-tiba muncul Bi Dam. Menyebut telah berubah pikiran dan bakal membebaskan Deok Man, ucapan Bi Dam langsung ditertawakan oleh Bo Jong (Baek Do-bin) dan Seok Bum (Hong Kyung-in).

Hanya meringis karena diremehkan, Bi Dam langsung menghunus pedangnya dengan satu gerakan cepat. Dikeroyok oleh belasan orang berkemampuan tinggi, tiba-tiba dari belakang muncul Yu Shin yang berhasil membebaskan diri. Kini, semuanya tergantung Yu Shin dan Bi Dam untuk menolong Deok Man.

Sinopsis The Great Queen Seon Deok Episode 23

Tayang Jumat, 11 Desember 2009 pukul 16:00 WIB di Indosiar

sinopsis episode 23 karya Tirza/DeokMan bisa dilihat di halaman 17 thread QSD klik http://pangeran229.wordpress.com/2009/11/19/qsd/comment-page-17/#comment-58789

Kehadiran Yu Shin di medan laga tidak cuma mengejutkan Deok Man, melainkan juga Bi Dam. Berbeda dengan Yu Shin (Uhm Tae-woong) yang hanya bersenjatakan tongkat kayu, Bi Dam (Kim Nam-gil) dengan pedangnya tidak segan-segan membunuh lawan-lawannya. Namun yang paling membuat Seol Won (Jun Noh-min) kaget, Bi Dam memiliki jurus yang sama persis dengan Moon Noh (Jung Ho-bin).

Meremehkan Yu Shin yang saat remaja sering dikalahkan, Seok Bum (Hong Kyung-in) dan belakangan Bo Jong (Baek Do-bin) ternyata mampu dikalahkan oleh sang yunior. Begitu ada kesempaan, Bi Dam langsung mengajak Yu Shin dan Deok Man (Lee Yo-won) untuk melarikan diri.

Berhasil lolos setelah melompat ke dalam air terjun, Yu Shin sangat kecewa saat Bi Dam memberitahunya kalau Deok Man berniat bunuh diri. Namun saat ditegur, Deok Man dengan marah menyebut sudah tidak ada lagi jalan keluar dari masalah yang dihadapinya. Siapa sangka, Yu Shin menyebut bahwa ia siap pergi sejauh mungkin dari Shilla dan meninggalkan semuanya demi Deok Man.

Ditemani oleh Al Cheon (Lee Seung-hyo), Putri Cheon Myeong (Park Ye-jin) menyusul Kim Seo Hyeon (Ju Sung-mo) ke desa Gunmak. Begitu bertemu muka, ia langsung bisa menebak kalau ayah Yu Shin itu sudah bekerja sama dengan Eul Jae (Shin Goo). Dengan marah, ia meminta Kim Seo Hyeon mengubah perintahnya supaya Deok Man bisa ditemukan dengan selamat.

Gagalnya penangkapan Deok Man membuat kubu Mi Shil (Go Hyeon-jeong) berang, namun wanita itu tetap ngotot supaya putri bungsu Raja Jinpyeong (Jo Min-ki) itu ditangkap dalam keadaan hidup. Oleh Pendeta Seo Ri (Song Ok-sook), Mi Shil kembali diingatkan bahwa ramalan bintang menunjukkan bahwa kehadiran dua putri kembar hanya akan membuatnya berada dalam kesulitan.

Untuk kesekian kalinya peringatan itu diabaikan oleh Mi Shil, sehingga Seo Ri memutuskan untuk bicara dengan Mi Saeng (Jung Wong-in). Begitu mendengar kalau kehadiran putri kembar bakal mengancam Mi Shil, Mi Saeng mengutus salah seorang putranya Dae Nam Bo (Ryu Sang-wook) untuk menghabisi Deok Man.

Saat tengah melacak keberadaan Deok Man, secara tidak sengaja Al Cheon melihat gerak-gerik seorang wanita yang mencurigakan. Saat diikuti, wanita tersebut secara tidak sengaja mempertemukannya dengan Bi Dam dan salah seorang penduduk desa.

Begitu ditodong pedang, Bid Dm langsung teringat oleh peringatan Yu Shin tentang warna ikat kepala hwarang yang harus dihindari. Mendengar Al Cheon menyebut dirinya rekan Yu Shin, ditambah kemunculan Guk San Heun (Jun Young-bin) dan Dae Pung (Park Young-seo) yang memakai kostum klan Kembang Naga, ia memutuskan membawa mereka ke tempat persembunyian.

Siapa sangka di tengah jalan Bi Dam berubah pikiran, dengan satu gerakan cepat ia merebut dan menghunuskan pedang ke arah Guk San Heun dan Dae Pung. Suara adu mulut antara Bi Dam dan Putri Cheon Myeong terdengar oleh Deok Man dan Yu Shin, yang langsung keluar dari persembunyiannya.

Di gubuk terpencil, Putri Cheon Myeong dengan sedih meminta Deokman untuk pergi sejauh mungkin dari Seorabol sambil minta maaf karena dirinya dan keluarga raja tidak mampu melindungi gadis malang itu. Sebelum pergi, Deok Man diminta untuk mengganti pakaiannya dengan gaun yang sama persis dengan yang dikenakan Putri Cheon Myeong.

Begitu Deok Man muncul, Putri Cheon Myeong langsung meneteskan air mata terharu. Sambil menyisir rambut Deok Man, sang putri berpesan supaya adiknya bisa hidup bahagia bersama Yu Shin. Deok Man hanya tersenyum tipis saat Putri Cheon Myeong meminta dirinya memanggil kakak, dan menyebut bakal menggunakan panggilan itu bila keduanya bertemu lagi.

Sementara itu, Guk San Heun dan Dae Pung terus mengamati gerak-gerik pasukan Seol Won dan melaporkannya pada Al Cheon. Keduanya tidak sadar kalau mereka diikuti oleh Dae Nam Bo, yang tanpa sepengetahuan atasannya mengemban misi rahasia dari Mi Saeng. Tidak ada yang sadar bahwa aksinya bakal mengubah sejarah.

Kredit Title dan Ucapan Terimakasih kepada:

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 61.574 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: